EDITORIAL

Kok Melulu "Impor" Cabai

BEBERAPA hari belakangan harga cabai merah semakin "menggila", dan klimaksnya Minggu (30/10) bercokol di

BEBERAPA hari belakangan harga cabai merah semakin "menggila", dan klimaksnya Minggu (30/10) bercokol di angka Rp 75 ribu perkilogram menjadi trending topic di kalangan mak-mak alias kaum ibu. Walau pedas, bumbu dapur satu ini selalu bikin ketagihan. Yang jelas, apapunlah lauk pauknya tanpa si pedas ini masakan terasa hambar.

Sangatlah wajar apabila ada mak-mak memekik tatkala harga cabai selangit. Dan tidak jarang merekapun berhemat-hemat konsumsi cabai. Biasanya sekali belanja satu kilogram (10 ons), untuk kebutuhan sepekan, tapi sejak harga melambung terpaksa dikurangi menjadi setengah kilogram. Apa boleh buat, karena anggarannya segitu.

Pendek kata, tidak ada cerita makan tanpa cabai. Gara-gara tanaman bernama latin Capsicum.sp ini menarik perhatian Gubernur Zumi Zola. Mungkin beliau juga penyuka pedas, buktinya dia faham harga dari hari ke hari. Bahkan Tuan gubernur mengimbau masyarakat tidak perlu mengeluh. Karena harga cabai setiap tahun seperti itulah. Pesan Zola manfaatkan lahan kosong menanam tanaman dari Bolivia (Amerika Latin) ini, artinya jangan tergantung dari luar.

Cabai memang bikin gonjang-ganjing. Tengoklah, tingginya inflasi Kota Jambi sangat dipengaruhi cabai merah 0,9478 persen, selebihnya tarif listrik 0,0947, tomat 0,0526, dan daging ayam ras 0,0526. Begitupun di Bungo juga dipengaruhi cabai merah sumbang inflasi 0,3188. Apa yang disampaikan oleh Tuan Gubernur "jangan tergantung dari luar" kloplah. Tapi kan, tidak selesai cuma retorika. Sudah saatnya Provinsi Jambi tidak "impor" cabai dari luar.

Gerakan ayo tanam cabai barangkali mendesak dilakukan, ini harga mati. Bisa dimulai dari tingkat RT, kelurahan dan seterusnya. Bagi yang tak punya lahan bisa juga bercocok tanam dalam lahan pot. Tanaman yang pertama kali disebarkan oleh pelaut asal Itali bernama Christophorus Columbus (1451-1506), bisa tumbuh di dataran dengan ketinggian 1400 meter dpl, bahkan dataran tinggi sekalipun.

Petani di Kabupaten Kerinci dan Muarojambi pernah bertanam cabai, tapi kualitas cabai Jambi kalah bersaing dengan cabai dari luar. Sejak zaman baheulak, Provinsi Jambi memang sangat ketergantungan dengan cabai luar daerah seperti dari Jawa, Lampung, Padang dan Bengkulu. Kalau kita tanya sama pedagang kenapa harga cabai mahal? Mereka jawab pasokan terbatas.

Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi juga jawabannya selalu normatif, tidak beda dengan pedagang. Yang menjadi pembeda paling- paling dibilang "cabai mahal karena orang hajatan lagi ramai,". Apa mungkin ada sesuatu dibalik tata niaga cabai? Wallahualam, jelasnya cabai tidak bisa ditimbun seperti bahan bakar minyak (BBM) atau LPG.

Patut digarisbawahi tanah Jambi masih terbuka lebar untuk bertanam cabai. Sejauh ini cukup subur,dan tidak pula berupa hamparan padang pasir, yang hanya bisa ditanam kurma. Kalau begitu kenapa kok Jambi yang subur masih "impor" cabai dari Lampung, Padang, Bengkulu dan Jawa? Nah, soal ini kita serahkan sajalah kepada ahlinya. Nanti salah cakap, bisa bikin yang terkait di sana kesahangan seperti orang habis kepedasan. (*)

Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved