TribunJambi/

Kasus Penipuan

Korban Capai Ribuan, Pengelola Investasi "Dream for Freedom" Jadi Tersangka

Penyidik Bareskrim Polri menetapkan pengelola sistem investasi "Dream for Freedom" (D4F)

Korban Capai Ribuan, Pengelola Investasi
Ambaranie Nadia K.M
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (31/8/2016). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Penyidik Bareskrim Polri menetapkan pengelola sistem investasi "Dream for Freedom" (D4F) berinisial F sebagai tersangka.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya mengatakan, korban investasi D4F mencapai 5.000 hingga 7.000 orang.

"Tersangka F sudah kami tahan untuk proses pendalaman terkait aset dan sebagainya," ujar Agung di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (24/10/2016).

Korban investasi itu tersebar di Jakarta, Palembang, Bengkulu, dan sejumlah tempat lain.

Agung mengatakan, F menipu korban dengan modus penawaran investasi dengan bunga 1 persen per hari, yang akan diberikan setiap 15 hari sekali. Namun, dalam praktiknya tidak demikian.

"Uangnya mereka gunakan untuk apa yang mereka sebut sebagai skema tutup lubang gali lubang," kata Agung.

Agung mengatakan, angka investasinya beragam tergantung paket. Beragam paket yang ditawarkan, yaitu silver, gold, dan platinum dengan nilai Rp 1 juta hingga Rp 20 juta.

Sistem investasi di bawah naungan PT Promo Indonesia Mandiri itu telah beroperasi selama dua tahun di sejumlah kota besar.

"Biasanya mereka merekrut lewat websitenya, www.d4f- official.com," kata Agung.

Saat ini, polisi masih mendalami keterlibatan tersangka lain dalam kasus ini. Hal itu termasuk penelusuran aset-aset korban yang sudah tertipu investasi bodong tersebut.

"Kami harapkan kami bisa menyelamatkan, bagaimana aset-aset para korban ini kita temukan dan kami kembalikan kepada mereka," kata Agung.

Sebagaimana dikutip dari Kontan, PT Promo Indonesia Mandiri mengumumkan bahwa situs D4F offline sementara sejak 16 Februari 2016.

Melalui pengumuman tersebut disampaikan telah terjadi ketidakseimbangan antara kontribusi atau hasil yang diperoleh dari pertumbuhan partisipan baru maupun perkembangan unit bisnis yang ada.

Hal itu menyebabkan sistem D4F kelebihan beban kewajiban. Sejak itu, satu per satu korban di masing-masing daerah menuntut D4F ke polisi karena merasa tertipu oleh investasi bodong.

Kompas TVPerangi Investasi Bodong

Editor: fifi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help