Santri tak Diperkenankan Masuk ke Pondok Kecuali Memiliki Hal Ini

Ditambahkan Masluc, saat diasuh oleh abah maupun buyut-buyutnya, santri tidak akan diperkenankan masuk menjadi bagian pondok terlebih dulu

Santri tak Diperkenankan Masuk ke Pondok Kecuali Memiliki Hal Ini
Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
Farah Fatin Wadiyah dan beberapa santriwati yang lain, saat menyulam kopyah di home industri milik KH Masluc Al Fanani. 

TRIBUNJAMBI.COM, GRESIK – Banyak orang menganggap, para santri dan santriwati yang tengah menuntut ilmu di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) itu hanya sekedar belajar ilmu agama dan mengaji. Hal itu sedikit terbantahkan saat berkunjung ke Ponpes Almakhat Assalafi Al Kholili yang berada di Jalan KH Kholil Gang 12 Nomor 8, Gresik, Jawa Timur.

Karena di ponpes asuhan KH Masluc Al Fanani (61) tersebut, para santri dan santriwati tidak hanya sekedar diajarkan ilmu agama dan mengaji saja. Namun, mereka juga dibekali dengan keterampilan dunia kerja, untuk menunjang skill para santri bila sudah lulus nantinya.

"Bukan pada saat saya asuh sekarang saja. Bahkan, kebiasaan membekali santri di sini dengan keterampilan, sudah diterapkan oleh para pendahulu saya, baik saat pondok masih diasuh oleh abah saya maupun para buyut-buyut saya," ujar Masluc, Sabtu (22/10/2016).

Ditambahkan Masluc, saat diasuh oleh abah maupun buyut-buyutnya, santri tidak akan diperkenankan masuk menjadi bagian pondok terlebih dulu, jika mereka tidak memiliki kesanggupan untuk mengikuti keterampilan yang disarankan.

Ponpes yang kini memiliki ratusan santri dari berbagai kota di Indonesia tersebut, coba membekali para santrinya dengan keterampilan berwiraswasta. Mulai dari berdagang, membantu di bengkel, mengajar, dan tentunya yang paling khas adalah membuat songkok alias kopiah.

"Karena di sekitar kampung sini, memang terkenal sebagai home industry pengerajin kopiah, saya juga punya usaha ini yang memang warisan turun-temurun. Makanya, sebagian santri saya ajak untuk membantu membuat kopiah, dan sebagian lagi ada yang ikut usaha tetangga lain yang juga buka usaha yang sama, tanpa mempengaruhi waktu belajar mereka," tandas Masluc.

Selepas belajar dan untuk mengisi waktu luang, para santri dan santriwati tersebut membantu pembuatan kopiah di tempat usaha Masluc maupun para tetangganya, dengan imbalan upah yang bisa digunakan untuk uang jajan.

"Biasanya sehabis belajar di sekolah pada pagi hari, saya dan teman-teman santriwati yang lain, sudah membantu menyulam kopyah yang belum jadi di sini (home industry milik Masluc), begitu juga saat sehabis mengaji selepas shalat isya," tutur salah satu santriwati asal Madura, Farah Fatin Wadiyah (20).

Ia mengaku, dalam sehari mampu menyulam sebanyak 60 kopiah, di mana kegiatan ini sudah ditekuni Farah sejak masuk menjadi bagian di Ponpes Almakhat Assalafi Al Kholili, atau satu tahun yang lalu. (Baca: "Tantangan Santri Saat Ini, Jihad Lawan Terorisme, Kemiskinan, Juga Narkoba")

"Lumayan juga sih. Selain membuat saya menjadi terampil dalam menyulam kopyah dan menjadi bekal bila sudah lulus nanti, juga dapat upah yang bisa buat jajan tanpa meminta kepada orang tua," tegasnya.

Ponpes Almakhat Assalafi Al Kholili yang kini diasuh oleh Masluc, memang mempunyai prinsip tidak hanya menciptakan santri maupun santriwati lulusan yang mengerti tentang ilmu agama. Namun juga sebagai lulusan yang siap menghadapi dunia nyata, dengan mampu bekerja dan menciptakan dunia usaha baru.

Editor: nani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help