TribunJambi/

Kelebihan Berat Badan tapi Tetap Sehat, Mungkinkah?

Penelitian terbaru dari John Hopkins menunjukkan, bahwa itu tidak bijaksana untuk terbuai oleh rasa aman yang palsu mengenai kesehatan jantung Anda.

Kelebihan Berat Badan tapi Tetap Sehat, Mungkinkah?
instagram
Ilustrasi

TRIBUNJAMBI.COM - Baru-baru ini, sebuah studi menemukan bahwa banyak penyakit kardiovaskular yang terjadi pada orang sangat kelebihan berat badan, kebanyakan didorong oleh diabetes dan tekanan darah tinggi.

Apakah mungkin Anda kelebihan berat badan tapi tetap sehat?

Kelebihan berat badan akan meningkatkan risiko penyakit jantung walau Anda tampak sehat, tidak memiliki tekanan darah dan Kolesterol tinggi atau diabetes, kata ahli jantung dari Johns Hopkins, Chiadi Ndumele, MD.

Penelitian terbaru dari John Hopkins menunjukkan, bahwa itu tidak bijaksana untuk terbuai oleh rasa aman yang palsu mengenai kesehatan jantung Anda. "Secara diam-diam, obesitas dapat menyebabkan kerusakan otot jantung Anda," katanya.

Kita tahu, orang yang kelebihan berat badan, cenderung berisiko tinggi menderita tekanan darah tinggi atau diabetes yang pada akhirnya menyebabkan penyakit jantung.

"Nampaknya, kegemukan menjadi sebab tunggal cedera hati, terlepas dari adanya kondisi tekanan darah dan Kolesterol tinggi dan diabetes," kata ahli jantung Johns Hopkins, Chiadi Ndumele, M.D., M.H.S.

Berat badan dan gagal jantung

Gagal jantung adalah ketidakmampuan organ jantung untuk tetap bekerja dengan efetif memenuhi tuntutan tubuh. Semakin lama, kasus gagal jantung menjadi sesuatu yang umum,menurut Ndumele.

"Banyak faktor yang dapat menyebabkan gagal jantung dan epidemi obesitas kemungkinan menjadi salah satu kontributornya," katanya lagi. Pada tahun 2030, diperkirakan satu dari lima orang dewasa berisiko mengalami gagal jantung.

Obesitas itu sendiri dapat menyebabkan gagal jantung-bahkan tanpa adanya gejala khas penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan Kolesterol tinggi.

Cedera pada sel otot jantung akan mendorong pelepasan enzim yang disebut troponin T. Dokter dapat mengukur kadar enzim ini di dalam darah seseorang yang diduga berisiko mengalami serangan jantung. Tes laboratorium yang sangat sensitif juga dapat mengukur troponin pada tingkat yang jauh lebih rendah.

Teknologi inilah yang memungkinkan peneliti Johns Hopkins mengukur kadar troponin serta indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 9.500 orang dewasa, usia 53-73, yang bebas dari penyakit jantung untuk kepentingan studi seperti dipaparkan di atas.

Mereka menemukan, bahwa BMI yang tinggi sangat terkait dengan tingginya level troponin dalam darah.

Cobalah untuk menurunkan berat badan (jika kelebihan berat badan) atau mengontrol berat badan agar tetap di batas normal. "Itu salah satu strategi terbaik yang kami tahu untuk mengurangi risiko gagal jantung," kata Ndumele.

Jika Anda berbadan gemuk, waspadalah terhadap tanda-tanda gagal jantung seperti kelelahan, sesak napas dan detak jantung yang tidak teratur.

Sadarilah, bahwa penurunan berat badan akan sangat membantu. Untuk setiap kenaikan lima poin di BMI, risiko gagal jantung naik 32 persen, ungkap penelitian ini.

Editor: nani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help