TribunJambi/

Tes Urine Mahasiswa Unja

Rektor Unja: Ketahuan, Langsung "Ditendang"

Rektor Universitas Jambi, Prof Johni Najwan, mengatakan tes urine dilakukan untuk mewujudkan kampus bebas narkoba.

Rektor Unja: Ketahuan, Langsung
TRIBUN JAMBI/JAKA HENDRA BAITRRI

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Rektor Universitas Jambi, Prof Johni Najwan, mengatakan tes urine dilakukan untuk mewujudkan kampus bebas narkoba. Program untuk semua mahasiswa baru ini sesuai amanah Undang-undang Nomor 35/2009 tentang Penyalahgunaan Narkotika. "Tidak ada tawar menawar untuk hal ini. Walau pun dia sudah lulus atau sudah bayar UKT (uang kuliah tunggal), kita kembalikan, kita berhentikan (jika positif narkoba; red)," katanya.

Kebijakan itu, katanya sesuai dengan kebijakan dari presiden Jokowi. “Bahwa kita Indonesia sedang darurat narkoba,” katanya.

Tes narkoba diadakan secepat mungkin. Awalnya, pihaknya akan bekerjasama dengan BNN, namun biayanya cukup mahal. "Karena itu kita serahkan kepada calon mahasiswa untuk tes urine sendiri. Boleh ke puskesmas, boleh ke rumah sakit pemerintah atau ke klinik yang bisa mempertanggungjawabkan," katanya.

"Kalau ada kebohongan langsung saja kita tindak. Pejabat negara saja bisa dicopot. Mahasiswa juga bisa," katanya.

Profesor hukum Unja ini mengatakan Unja belum bisa melaksanakan tes urine sendiri untuk mahasiswa baru karena masih menggunakan pola pendanaan satker. "Kita tidak boleh, karena kita juga punya fakultas kedokteran," katanya.

Tes urine di Balairung Unja merupakan kerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi. Johni mengatakan itu profesional. Dia mengatakan penyalahgunaan narkotika bukan hanya merugikan mahasiswa, tapi juga orang tuanya. "Ada plesetan dari singkatan narkoba, narik kolor bapak sendiri. Kan bikin susah orang tua itu," ucapnya kemudian tertawa.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help