Dusun Tuo Rantau Panjang

Eksotisme Rumah Raja Berusia Ratusan Tahun di Merangin (1)

JAMBI memiliki begitu banyak tempat wisata dan aneka seni budaya. Untuk satu kabupaten saja,

Eksotisme Rumah Raja Berusia Ratusan Tahun di Merangin (1)
TRIBUN JAMBI/BANDOT ARYWONO
Suasana rumah tua di Dusun Tuo, Rantau Panjang Merangin. 

TRIBUNJAMBI.COM - JAMBI memiliki begitu banyak tempat wisata dan aneka seni budaya. Untuk satu kabupaten saja, banyak potensi tersebut yang belum tergali secara maksimal seperti di Kabupaten Merangin,

Rabu (6/5) hingga Jumat (8/5) kemarin, Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Jambi menggelar Fam Trip untuk melihat dan mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Jambi. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Kabupaten Merangin. Kurang lebih 50 orang yang terdiri dari pelajar, media, perusahaan dan juga agen travel di Jambi mulai menikmati petualangan wisata dari perkampungan tua di Rantau Panjang.

Perkampungan ini terletak di Kecamatan Tabir tepatnya di Desa Rantau Panjang atau sekitar 30 Km dari Bangko. Desa ini merupakan desa tertua di provinsi Jambi yang memiliki rumah-rumah berusia ratusan tahun. Penduduk desa ini adalah suku Batin keturunan proto Melayu atau Melayu tua. Tidak seperti daerah-daerah lainnya di Jambi yang kebanyakan dihuni oleh suku Batin yang lebih muda. Suku Batin sendiri merupakan suku asli Jambi.

Rumah di Desa Rantau Panjang hampir seragam. Merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan berbentuk memanjang ke samping dengan sebuah tangga di depan rumah. Rumah-rumah ini memiliki jendela yang besar dan dulunya beratap ijuk meski sekarang diganti dengan seng karena susahnya mencari ijuk.

Cangkok rumah tuo

Satu diantara rumah yang terlihat mencolok yakni rumah panggung di ujung kampung yang bewarna coklat terang, rumah yang ditempati oleh Iskandar ini konon merupakan satu diantara rumah tertua di sana berumur sekitar 683 tahun. Rumah tuo ini saat ini juga berfungsi sebagai museum bagi Suku Batin di Dusun Tuo.

Sebelum mempersilahkan masuk ke dalam rumah, suguhan adat seni budaya ditampilkan di halaman depan rumah tuo yang lapang, tanah lapang yang dikelilingi rumah-rumah panggung penduduk Desa Tuo ini merupakan tempat dimana masyarakat berkumpul dan melakukan aktivitas bersama-sama, masyarakat, masyarakat Desa Tuo memang dikenal masih menjunjung tinggi budaya gotong royong kebersamaan bahkan hingga kini.

Suguhan Tari Semayo ditarikan oleh enam orang remaja putri, mengenakan baju bewarna hitam, dipadu dengan kain dan kepala dibalut tengkuluk warna putih, para remaja putri ini terlihat kompak menarikan tarian berirama rancak ini.

Ruang tengah rumah tuo

"Tarian Semayo artinya perundingan, kesepakatan ini juga ditarikan untuk menyambut tamu," kata Iskandar keturunan ke 14 dari Puyang Bungkuk pendiri dari Dusun Tuo Rantau Panjang. Usai tarian Semayo, dilanjutkan dengan tampilnya dua orang bocah memperagakan silat khas dari dusun tersebut.

Meski bernama Puyang Bungkuk namun menurut Iskandar perawakanannya tidak bungkuk seperti namanya,
Iskandar mengatakan ceritanya rumah-rumah di dusun tuo hanya terdapat 19 rumah. Rumah ini berarsitektur panggung dengan ditopang beberapa tiang di bagian kolong rumah dan dinding kayunya dihiasi ukiran-ukiran.

"Rumah pertama kali dibangun sejak pindah dari Kerajaan Koto Rayo, hampir 700 tahun yang lalu, semuanya dibangun dengan kayu tanpa paku hanya memakai pasak dan ikat," kata Iskandar. Rumah Tuo yang kini dihuni dirinya bersama keluarganya diceritakannya merupakan rumah raja.

Penduduk Dusun Tuo Rantau Panjang yang awalnya penganut animisme yang percaya kepada makhluk halus dan roh sejak tahun 1600 an telah memeluk Agama Islam. Meski merupakan komunitas tersendiri, akan tetapi mereka juga tidak anti terhadap asimilasi kebudayaan. Masyarakatnya yang ramah ini kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani.

Kaum pria pergi menyadap karet sementera kaum wanita bekerja di sawah. Andi Sekretaris Pengurus Rumah Tuo mengatakan sejak dicanangkan sebagai Desa Wisata, pemerintah telah banyak membantu untuk melakukan rehab rumah disana.

Penulis: bandot
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved