Media Famtrip 2014

Warga Jepang Buru Batuan Purba Geopark

Bebatuan besar, jeram yang membangkitkan adrenalin kala menyusurinya hingga fosil-fosil flora yang bertebaran di geopark memang menggoda.

Warga Jepang Buru Batuan Purba Geopark
TRIBUNJAMBI/HERU PITRA
Tim dari Unesco melihat Geopark Merangin, Kamis (7/8)

Di spanduk yang didominasi warna biru itu ada kalimat yang ukuran hurufnya lebih besar dari yang lain. "Media Famtrip 2014, Geopark Merangin and Highland Kerinci". Ya, taman bumi Merangin dan Kerinci adalah objek yang ditunggu-tunggu peserta Media Famtrip 2014

SEBELUM melancong ke geopark, kami lebih dulu singgah ke situs percandian Muarajambi, sanggar batik, Menara Gentala Arasy, dan Dekranasda di hari pertama tur. Sayang, Menara Gentala Arasy yang serangkai dengan jembatan perdestrian masih dalam tahap pengerjaan. Kelak, bangunan yang akan jadi destinasi wisata ini diyakini bakal jadi ikon wisata Kota Jambi.
Ikon wisata. Itulah yang harus dimiliki Jambi. Dan taman bumi Merangin yang sudah diajukan ke UNESCO untuk jadi warisan dunia patut menjadi ikon tersebut. Bebatuan besar, jeram yang membangkitkan adrenalin kala menyusurinya hingga fosil-fosil flora yang bertebaran di geopark memang menggoda. Di sinilah terdapat bebatuan yang pada sisinya tercetak flora tertua di Asia sekitar 300 juta tahun lalu, dan itu menakjubkan.
Dus, sayang semua keindahan alam Merangin itu hanya kami nikmati melalui tayangan film dokumenter produksi lokal. Hujan deras yang mengguyur Merangin, sepanjang Jumat (14/11) sore menghentikan langkah kami untuk singgah di Geopark Merangin. Termasuk mencoba rafting di aliran sungai kuno tersebut.
Kami harus segera tiba di Kerinci sebelum larut malam karena esok paginya, Festival Danau Kerinci menanti. Tapi kami tak sial amat. Beruntung Wakil Bupati Merangin Khafid Moein akhirnya menjadi "guide" dadakan. Ditemani hujan deras, ruangan yang gelap karena listrik padam, mantan Sekda itu bercerita banyak tentang geopark dan kekayaan wisata bumi Tali Undang Tambang Teliti. Ia juga sempat mempresentasikan sejumlah potensi wisata yang ada di Merangin melalui slide.
Pada sebuah slide, ia memamerkan sebuah foto pokok kayu berukuran besar. Diketahui, itukah tanaman masa lampau yang tumbang dan membatu hingga ke akar-akarnya. Itu adalah fosil Araucarioxylon. Dari mulut Khafid mengalir cerita bahwa dalam waktu yang lama, masyarakat Merangin tak mengetahui bahwa bumi mereka memiliki geopark. Hasil fenomena alam yang berada di Desa Air Batu itu dulunya dieksploitasi habis-habisan oleh sejumlah orang dengan mengambil batu fosil, fosil kayu untuk dikomersilkan.
Bahkan, ujar wabup, batu-batu ini dibawa oleh orang Jepang untuk hiasan. Akhirnya, mulai dikenalnya geopark serupa cerita penemuan situs Muarajambi oleh SC Crooke pada 1824. Setelah sekian lama akhirnya kabar candi itu tersebar, baru pada 1975 pemugaran candi di Muarajambi dilakukan. Pemkab Merangin juga Pemprov Jambi barulah "dikejutkan" ketika 2008 sejumlah pemda dikumpulkan di Garut, Jawa Barat.
"Dari pihak geologi nasional memberi tahu bahwa ada geopark di Merangin," tutur Khafid yang ketika itu menjadi Sekda Merangin. Ia juga kaget ketika diberitahu bahwa bebatuan dan fosil disana berusia sekitar 300 juta tahun yang lalu. Padahal masih segar diingatannya, jauh sebelum itu aliran sungai di geopark acap digunakan untuk tempat arung jeram. Kata dia, pada 1993 kawasan tersebut menjadi tempat penyelenggaraan sebuah event rafting skala nasional.
Ketika diketahui betapa pentingnya keberadaan geopark Merangin, barulah perhatian tercurah untuk melestarikan objek wisata dan laboratorium alam tersebut. Misalnya, mulai dilakukan pembebasan lahan, membangun infrastruktur dan tak kalah penting memberdayakan masyarakat agar terbangun kesadaran untuk turut menjaga kekayaan alam itu.
Merangin yang luasnya 769 ribu hektare kaya akan tempat wisata. Kabupaten dengan 24 kecamatan dan 215 desa itu memiliki danau, gua, situs purbakala, gunung, juga hutan yang dihuni hewan kuwauw atau merak Sumatera yang mulai langka.
Tiba-tiba saja cerita Khafid mengingatkan Tribun akan teori Plato tentang Antlantis. Atlantis yang hilang yang disebut-sebut dulunya ada di negeri yang kini dikenal dengan nama Indonesia. Ah, Merangin tua, emas yang melimpah, swarnadwipa, geopark menyisakan tanda tanya sebagaimana penasaran yang belum terbayar lantaran urung menginjakkan kaki di sana. (deddy rachmawan)

Penulis: deddy
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help