• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Tribun Jambi

Marak Ngelem Anak Jalanan di Jambi

Senin, 23 September 2013 08:34 WIB
Marak Ngelem Anak Jalanan di Jambi
net
ilustrasi

Laporan wartawan Tribun Qomaruddin
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI- Menghirup gas atau bau lem yang dikenal dengan istilah ngelem, telah merasuki sebagian kalangan anak jalanan di Kota Jambi.

Kecanduan ngelem ini terjadi pada anak-anak putus sekolah yang masih usia produktif. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sejumlah perempatan lampu merah, di kolong jembatan dan emperan toko di sudut Kota Jambi.

Dari penelusuran Tribun yang turun ke lapangan, penyakit masyarakat ini disebabkan lingkungan di mana mereka berada, dari teman, keluarga berantakan (broken home), dan kurangnya peran pihak terkait dalam pembinaan mereka.

T satu di antara anak jalanan dan pemakai lem menuturkan, kedatangan mereka di Kota Jambi sekitar satu tahun lalu dari kota M. Tak banyak yang dilakukannya setelah orangtuanya meninggal dunia. Bangku pendidikan terpaksa ia tinggalkan lantaran kesulitan biaya.

"Berhenti sekolah. Dulu waktu masih ada orangtua ada biaya, karena orangtua meninggal, siapa yang akan nanggung biaya sekolah, jadi agak terkejut. Nggak ada tempat untuk mengadu, dari situlah kita kerja dan cari makan lewat ngamen," katanya dalam percakapannya dengan Tribun di suatu tempat beberapa waktu lalu.

Menurutnya, mengamen adalah pekerjaan yang paling mudah, karena tidak ada pilihan lain, mau mencari kerja, minder tidak memiliki ijazah. Belum lagi cemooh dan hinaan kadang kala didapati dari keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya.

"Nyari kerja nak pakai tamatan, saya SD aja dak tamat, di rumah keluarga sama dak punya uang, paling-paling ngamen, pernah di rumah saja gak ada kerjaan tapi banyak orang yang bilang gini-gitulah, jadi tambah berat pikiran, lebih baik pergi dari rumah," imbuhnya.

Dari sinilah cikal bakal dirinya mencari pelarian dengan ngelem dan mabuk-mabukan minuman keras. Mulanya, hanya untuk menghilangkan beban/stress, tapi jika minum minuman keras setiap hari, tidak punya uang. Dengan lem harganya terjangkau dan mudah dibeli.

Katanya, memang mengunakan lem, masalah tidak hilang, namun bisa meringankan sesaat. "Masalah bisa hilang sebentar, kalau keluarga sebenarnya di Jambi banyak, termasuk berada jugalah, cuma nggak mau merepotkan saja, lebih baik seperti inilah," ungkapnya.

Dikatakan T, saat ngamen itulah ketemu dengan sejawat satu perasaan dan senasib. Kebanyakan  mereka pengertian, bisa saling berbagi bahkan membantu. "Satu bungkus nasipun kita makan ramai-ramai," sambungnya.

"Pertama kali gunakan lem tidak tahu secara pasti, awalnya katanya enak, untuk ngilangin masalah dan bisa percaya diri. Dak menghitung sehari habis berapa, kalau ada makai sendiri, pas tidak ada ya rame-rame makainya, itupun kita beli dari hasil ngamen atau jualan," ucapnya.
Senada W mengatakan, kondisi ekonomi keluarga dan minim perhatian dari orangtua, dikarenakan sibuk bekerja membuat dirinya frustrasi dan tidak terpantau. Apalagi setelah ia memutuskan untuk berhenti sekolah, kedua orangtuanya semakin cuek terhadap dirinya.

"Kita banyak kenal dengan pengamen dulunya, jadi ikut ngamen setelah nggak sekolah, yang terpenting kita tidak maling atau nyopet," ujarnya dengan mata sembab.

Dari berteman dengan sesama anak jalanan, dia mulai mengenal lem dan terus mencobanya. Memang awalnya hanya penasaran saja, bahkan kini rutin menggunakan, apalagi komunitasnya rata-rata menggunakan lem.

"Ya, cuma enak aja setelah ngelem, enteng badan rasanya, tidak ada beban, lagian pula cara mendapatkan lem tidak terlalu sulit bisa dicari di mana-mana, harga tidak mahal, yang pasti murahlah," katanya.

Dirinya beranggapan dengan menghisap lem, akan merasa nyaman, tentram dan beban hidup yang berat bisa dilupakan. Ia akan merasakan fly, happy bisa di mana dan kapanpun digunakan, karena barangnya simpel dibawa. "Makanya dak tentu, kapan mau bisa dihisap, barangnya kecil, jadi sewaktu-waktu bisa digunakan," tambahnya.

Pantauan Tribun, cara mereka menggunakan lem sambil duduk bersandar, dengan menghirup lama-lama, setelah menghirup akan terlihat mata memerah dan sembab. Selain di tempat tersembunyi di keramaian pun mereka sempat menggunakan, tapi caranya disimpan dalam baju, dijepitkan di bawah ketiak (ketek).

Penulis: qomaruddin
Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas