• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Tribun Jambi

Maraknya Prostitusi Pelajar di Kuala Tungkal

Jumat, 20 September 2013 08:26 WIB

Laporan wartawan Tribun Awang Azhari
TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL- Banyak pihak prihatin atas maraknya praktik prostitusi yang dilakukan pelajar di Kuala Tungkal. Selain akan berefek terhadap masa depan anak, juga terhadap kultur yang ada di Tanjung Jabung Barat.

Kasatpol PP Tanjab Barat, M Yunus menjelaskan bahwa sebenarnya selama ini pihaknya telah banyak berperan untuk meminimalisir praktik tersebut di hotel-hotel.
Namun menurutnya tak mungkin hal itu harus dilakukannya secara rutin dengan limit waktu berdekatan, karena terkendala dengan anggaran.

Meski begitu, Yunus mengatakan minimal dua kali dalam sebulan pihaknya akan turun untuk razia. Ia pun akan segera mengerahkan intel Satpol PP untuk memantau praktik prostitusi di hotel-hotel.

"Kita akan kerahkan intel, dan jika ada laporan dari intel, akan ada tim yang turun, untuk ditangkap dan diserahkan ke Dinsosnakertrans, kemudian dibawa ke Jambi," kata Yunus, Kamis (19/9).

Namun untuk anak SMA yang tertangkap, menurutnya akan ada perlakuan yang berbeda. "Kalau pelajar, tentu akan kita antar ke orangtuanya atau ke sekolahnya, setelah dilakukan pendataan," jelas dia.

Ketua LSM LP2TRI, Halim Gunawan (Babe) mengatakan harus ada perhatian khusus atas masalah ini, jangan sampai praktik prostitusi di kalangan ABG yang dilakukan di hotel-hotel di Kuala Tungkal itu dibiarkan begitu saja.
"Pemerintah punya kewajiban untuk mendidik mereka menjadi benar. Jangan hanya bisa mengatakan ada peraturan, tapi penegakannya tidak ada," katanya kepada Tribun.

Untuk itu, Satpol PP harus intens melakukan razia ke hotel-hotel. Di tempat pelelangan ikan (TPI) serta pasar kuatik misalnya, menurutnya hampir tiap malam praktek seks bebas dilakukan.

Bukan menindak mereka (anak ayam) dengan hukuman, namun menurutnya pemerintah dan pihak terkait harus bisa mencari jalan keluar. "Jangan sampai Kuala Tungkal mencerminkan daerah yang tidak benar gara-gara praktik itu." katanya.

Dinas Pendidikan menurut Babe juga harus memberikan solusi kepada sekolah, dan berkomunikasi dengan orangtua siswa. Agar dapat bekerja sama untuk menangani atau membendung praktik tersebut supaya tak meluas terlalu lebar.

"Jangan hanya memerankan praktik pendidikan di sekolah, tapi lepas tangan selepas jam belajar. Orangtua itu harus diajak juga berperan dalam pendidikan anak," jelasnya.

"Sudah harus kita hapus memang mindset di masyarakat yang bilang di sini banyak umang-umang (wanita panggilan). Bersamalah kita perbaiki," urainya. (zha)

Penulis: awang
Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas