Wartawan Tertembak
Belum Bisa Buka Mata
TRIBUNJAMBI.COM - KONDISI kesehatan Anton Nugroho koresponden Trans 7 yang tertembak peluru pada demonstrasi menolak kenaikan harga
Tayang:
Penulis: bandot | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - KONDISI kesehatan Anton Nugroho koresponden Trans 7 yang tertembak peluru pada demonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai membaik. meskipun begitu, bengkak di bibir dan juga wajahnya masih terlihat, darah kering juga masih terlihat di pipinya yang masih terbalut kapas perban warna putih.
Selasa (18/6) sore Anton yang dirawat di paviliun Hesti no 9 terlihat terbaring lemas, beberapa anggota keluarganya terlihat masih berada di sekelilingnya.
Anton mengaku kondisinya sudah agak lebih baik dibandingkan kemarin, namun Ia masih mengalami kesulitan tidur dan nafasnya masih terengah-engah.
"Masih sulit tidur," katanya dengan lirih. Nafasnya pun terdengar masih belum teratur dan Dia masih belum bisa membuka kedua matanya, dia masih dibantu oleh ibu dan istrinya untuk mengetahui siapa yang datang membesuknya.
Beberapa kali ibunya membisikkan ke kuping Anton setiap kali ada yang datang membesuknya. Kondisi Anton menurut keterangan Niken istrinya tulang pipi sebelah kanannya patah akibat selongsong gas air mata yang pada Senin kemarin bersarang di pipi kanan suaminya.
"Masih belum pulih, dokter bilang syaraf matanya tidak ada penopangnya karena tulangnya patah," kata Niken.
Menurutnya dokter masih menunggu keadaan Anton, "Masih menunggu keadaannya, tiga hari ini kalau tidak ada kemajuan akan ada tindakan lanjutan," sebutnya.
Tribun yang mencoba menghubungi Dokter Kuswaya untuk mengetahui kondisi Anton pada Selasa malam tidak mendapat jawaban, no hp nya bernada sibuk dan dicoba beberapa kali tidak diangkatnya.
Muhammad Usman perwakilan dari AJI Kota Jambi sangat menyayangkan tindakan aparat kepolisian. "Wartawan didalam melakukan tugas peliputan dilindungi oleh undang-undang, Wartawan seharusnya dilindungi oleh polisi dalam peliputan, tidak seharusnya wartawan itu ditembak," kata Sekretaris AJI Kota Jambi itu.
Wartawan juga meminta agar Briptu Dodi tidak hanya dikenakan sanksi administrasi maupun indisipliner semata, akan tetapi polisi wajib membawanya ke ranah hukum apabila memang terbukti ada unsur-unsur pidana di dalamnya.
Selasa (18/6) sore Anton yang dirawat di paviliun Hesti no 9 terlihat terbaring lemas, beberapa anggota keluarganya terlihat masih berada di sekelilingnya.
Anton mengaku kondisinya sudah agak lebih baik dibandingkan kemarin, namun Ia masih mengalami kesulitan tidur dan nafasnya masih terengah-engah.
"Masih sulit tidur," katanya dengan lirih. Nafasnya pun terdengar masih belum teratur dan Dia masih belum bisa membuka kedua matanya, dia masih dibantu oleh ibu dan istrinya untuk mengetahui siapa yang datang membesuknya.
Beberapa kali ibunya membisikkan ke kuping Anton setiap kali ada yang datang membesuknya. Kondisi Anton menurut keterangan Niken istrinya tulang pipi sebelah kanannya patah akibat selongsong gas air mata yang pada Senin kemarin bersarang di pipi kanan suaminya.
"Masih belum pulih, dokter bilang syaraf matanya tidak ada penopangnya karena tulangnya patah," kata Niken.
Menurutnya dokter masih menunggu keadaan Anton, "Masih menunggu keadaannya, tiga hari ini kalau tidak ada kemajuan akan ada tindakan lanjutan," sebutnya.
Tribun yang mencoba menghubungi Dokter Kuswaya untuk mengetahui kondisi Anton pada Selasa malam tidak mendapat jawaban, no hp nya bernada sibuk dan dicoba beberapa kali tidak diangkatnya.
Muhammad Usman perwakilan dari AJI Kota Jambi sangat menyayangkan tindakan aparat kepolisian. "Wartawan didalam melakukan tugas peliputan dilindungi oleh undang-undang, Wartawan seharusnya dilindungi oleh polisi dalam peliputan, tidak seharusnya wartawan itu ditembak," kata Sekretaris AJI Kota Jambi itu.
Wartawan juga meminta agar Briptu Dodi tidak hanya dikenakan sanksi administrasi maupun indisipliner semata, akan tetapi polisi wajib membawanya ke ranah hukum apabila memang terbukti ada unsur-unsur pidana di dalamnya.