A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Seloko dan Pantun Saat Melamar Putri - Tribun Jambi
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 21 Agustus 2014
Tribun Jambi

Seloko dan Pantun Saat Melamar Putri

Senin, 10 Juni 2013 12:58 WIB
Seloko dan Pantun Saat Melamar Putri
TRIBUNJAMBI/SUANG SITANGGANG
Prosesi adat Sirih pinang, pada suku anak dalam batin IX, di Kecamatan Muara Bulian, kabupaten Batanghari, Jambi
Arus modernisasi yang cukup deras telah menggerus budaya lokal. Tak terkecuali budaya Suku Anak Dalam (SAD) Batin IX yang sangat unik dan eksotis. Suku ini diperkirakan telah mendiami Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sejak abad ke-10.
 
SUKU yang namanya didasarkan pada penyebaran keturunannya pada sembilan anak sungai ini memiliki budaya yang cukup unik nan eksotis. Satu diantara keunikan itu terlihat dalam prosesi lamaran, yang dalam istilah suku batin IX disebut sirih pinang. 

Prosesi sirih pinang yang sudah sangat jarang dilakukan itu terlihat di kediaman Abun Yani, Sabtu (8/6). Belasan orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan datang ke kediamannya, yang berada di Desa Kilangan, Kecamatan Muara Bulian, Batanghari. 

Mereka menggunakan pakaian rapi. Seorang di antaranya menggunakan mangguto (penutup kepala yang ujungnya runcing), yang dikenakan pria yang usianya sudah paruh baya. Ia lalu mengucapkan salam kepada tuan rumah. 

"Assalamualaikum," kata pria itu di depan rumah. "Walaikum salam," jawab Abun Yani dari dalam rumah. Ia tidak langsung mempersilakan tamunya itu masuk. 

Tamu itu lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Namun isinya tidak secara langsung melainkan maksud tersirat. Pengungkapannya pun bukan dengan komunikasi biasa, tetapi lewat seloko (seloka) dan pantun. Tuan rumah membalas semua pantun dari tamunya itu. 

Abun Yani kemudian mempersilakan tamunya itu masuk lewat pantun yang indah. Tamu itu menunjukkan sirih dan rokoh dalam sebuah kotak, lalu semua yang ada di rumah agar menikmatinya. 

Abun Yani pun membuka sebuah kotak yang ternyata juga sirih dan rokok. Ia juga turut menawarkan kepada semua yang di rumah agar menikmatinya. Keluarga Abun Yani kemudian menghidangkan makanan dan minuman untuk disantap bersama dengan tamu yang datang itu.

Itulah tradisi Suku Batin IX. Terlebih dahulu menjalin keakraban sebelum ungkapkan maksud dan tujuannya. Suku ini juga sangat menghargai tamunya dengan mengajak mereka menikmati hidangan seadanya. Tamu yang hadir akan dianggap memiliki niat yang baik. 

Usai menikmati hidangan itu, tibalah saat bagi tamu mengungkapkan maksud kedatangan. Juru bicara tamu itu menyebut mereka mendengar empunya rumah memiliki seorang anak gadis. Ia menanyakan apakah anak gadis itu sudah dijodohkan dengan seseorang. 

"Maksud kami nak menyemendolah di siko," ucapnya. Pernyataan itu memiliki makna anak laki-lakinya ingin menjadi menantu di rumah itu. Tamu itu mengenalkan seorang jejaka yang bermana Erwan, yang sudah siap menjadi semendo untuk keluarga Abun Yani. 

Abun tidak langsung menjawab anak gadisnya sudah memiliki tunangan atau belum. Ia menjawab bahwa dia dan istrinya belum menjodohkannya. Namun itu belum kepastian bahwa anak gadisnya belum dijodohkan, sebab yang memiliki hak waris bukan hanya dirinya. 

Dalam budaya SAD Batin IX, orangtua hanya sebagai pemilik anak, namun yang memiliki hak atas anak itu juga termasuk adik dan kakak dari pihak suami dan pihak istri. Abun menanyakan ke keluarga besarnya apakah ada diantaranya telah menjodohkan anaknya. 

Setelah semuanya menjawab bahwa anak gadis itu belum dijodohkan, akhirnya disampaikan kepada pihak keluarga yang ingin melamar anaknya, bahwa putrinya belum punya ikatan dengan siapapun. Pernyataan itu langsung disambut gembira oleh tamu tersebut. 

Proses itu dalam istilah Batin IX disebut sirih tanyo, yang merupakan bagian dari sirih pinang. Ada dua bagian lainnya dalam sirih pinang, yakni sirih tando dan sirih hantar adat. Biasanya, beberapa hari setelah sirih tanyo baru diadakan sirih tando. 

Namun saat ini, antara sirih tanyo dengan sirih tando sudah dilakukan bersamaan pada kesempatan yang sama. Hal itu tidak lepas dari perubahan zaman, yang membuat manusia saat ini semakin disibukkan dengan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. 

Sirih tando bisa dikatakan bentuknya seperti proses pertunangan. Calon semendo akan memberikan cincin kepada keluarga perempuan. Cincin itu menjadi pengikat perjanjian diantara kedua belah pihak. Kedua belah pihak membuat kesepakatan menjaga anaknya. 

Prosesi terakhir adalah sirih hantar adat. Zaman dahulu, selang waktu antara sirih tando dengan hantar adat tidak kurang dari satu bulan. Namun seiring waktu, saat ini sudah dilakukan pada hari yang sama juga dengan sirih tanyo dan sirih tando. 

Pada prosesi terakhir ini, keluarga dari calon semendo memberikan perlengkapan adat kepada pihak perempuan. Hal paling utama adalah payung, keris, perlengkapan anak gadis mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, dan uang yang disebut ringgit. 

"Keris diberikan karena dia akan menyemendo kepada raja," kata Abun. Memang Abun saat ini merupakan yang dituakan dalam SAD Batin IX. Dia diangkat menjadi ketua keturunan Batin IX, sehingga dalam adat dianggap sebagai raja. 

Sementara payung, ucapnya, merupakan simbol bahwa calon semendo itu akan mampu juga untuk memayungi keluarga calon istrinya. Pria tidak boleh hanya melindungi keluarga dari pihaknya saja, tapi juga harus melindungi keluarga dari istrinya kelak. 

Sedangkan ringgit dianggap seperti mahar. Jumlah ringgit untuk yang berasal dari keluarga biasa tidak sama dengan keluarga dari raja. "Kalau dari keluarga biasa, dalam tradisinya 50 ringgit. Kalau keluarga raja 50 ringgit lipat dua," terangnya. 

Lipat dua yang dimaksudnya bukan uang itu yang dilipat menjadi dua, tapi jumlahnya dikali dua, atau menjadi 100 ringgit. 

Abun Yani telah menerima keluarga dari Bajubang itu sebagai calon semendo. Saat ini mereka akan mencoba melihat hari yang bagus untuk menentukan tanggal pelaksanaan adat pernikahan. "Ada hari baik dan ada yang sangat baik. Kita cari yang sangat baik," ujar dia. 

Tradisi seperti yang dilaksanakan di rumah Abun Yani itu sudah sangat jarang terlihat. Acara pertunangan sudah jarang menggunakan pantun dan selolo, karena memang seloko dan pantun yang eksotis itu tak lagi bisa didendangkan mayoritas keturunan Batin IX. (suang sitanggang)
Penulis: suang
Editor: suang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
263112 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas