Selasa, 9 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Saat Kesal Dilarang Membatik

TRIBUNJAMBI.COM - Mengikuti pelatihan membatik yang diadakan Darma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jambi membuat Eli Sulastri (40), seorang

Tayang:
Penulis: rida | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - Mengikuti pelatihan membatik yang diadakan Darma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jambi membuat Eli Sulastri (40), seorang peserta tersadar akan susahnya membuat batik tulis. PNS di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ini pun berpikir untuk tidak lagi menawar-nawar kala membeli batik tulis.

"TERASA susahnya membuat batik tulis ini. Pinggang, tangan pegal-pegal semua," ujarnya, Selasa (23/4).
Meskipun di hari kedua pelatihan ia merasa sedikit nyaman membatik, diakuinya saat hari pertama tangannya sangat kaku memegang canting. Menurutnya membatik itu susah-susah gampang.

"Ini sudah agak enakan. Kalau pertama megang kemarin kaku nian. Karena baru pertama kalinya membatik," jelasnya.
Selain belajar membatik, sekitar 41 ibu-ibu yang terdiri dari perajin murni dan perajin binaan DWP kabupatan/kota tersebut juga sedang dikejar deadline. Sebanyak 30 perajin tengah menyiapkan pesanan Yusniana Hasan Basri dan Dewi Syahrasaddin.
"Ini mau selesaikan pesanan Ibu Sekda dulu, minta batik buat 30 baju. Setelah ini selesai baru mengerjakan pesanan Ibu Gubernur untuk buat 10 taplak meja," ujar Ida Mariyanti, instruktur membatiknya.
Dikatakan Ida, kegiatan membatik sebenarnya adalah hal yang menyenangkan dan sangat mudah. Asalkan dengan catatan mengikuti aturan.
"Kuncinya niat, kesungguhan dan ikuti aturan petunjuk kita," tegasnya
Aturan yang ia maksud adalah seperti pertama tangan yang memegang canting adalah sebelah kanan. Harus memulainya dari kiri ke kanan. Kedua, hati-hati. Jangan dipaksa saat lilin tidak mau jalan. Sebab itu pertanda lilinnya beku dan harus cepat dipanaskan.
"Lilin itu harus tembus ke kain. Karena fungsi lilin adalah sebagai zat perintang warna," katanya.
Adapun syarat ketiga yaitu jangan tergopoh-gopoh. Lakukan kegiatan membatik sesantai mungkin. "Karena membatik itu harus dari hari. Kalau kesal jangan membatik," tandasnya.
Dikarenakan pelatihan hanya berlangsung dua hari maka pesanan tersebut kata Ida akan diselesaikan di rumah masing-masing perajin.
"Sebenarnya sehari bisa selesai. Tapi dalam membatik tidak bisa didesak-desak. Jadi biarkan mereka bekerja dengan santai," jelasnya.
Batik yang dipesan Yusniana dan Dewi bukanlah sembarang batik. Tapi harus motif Angso Duo atau Durian Pecah. Dikatakan Ida motif itu permintaan khusus Yusniana.
"Kata Ibu Gubernur batik Jambi itu yang paling terkenal motif Angso Duo dan Durian Pecah. Seperti sudah menjadi ikonnya batik Jambi," ungkapnya.
Dalam pelatihan itu, beberapa kali Ida tampak menegur peserta pelatihan. Ini karena peserta berbuat kesalahan dalam proses membatik.
"Membatik tangan jangan melintang. Tangan ke kanan, arahnya ke kanan. Jangan melawan serat kain. Harus se arah jarum jam," katanya.
Menurutnya ini adalah hal sepele yang sering kali diabaikan oleh para perajin. Padahal kalau benar, kata Ida, jalannya lilin ke kain akan santai dan sangat lancar.
"Mulainya dari kiri ke kanan. Bawah ke atas. Kalau melawan awah pasti jalannya lilin akan nyendat," terangnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved