Iba Lihat Ilham dan Sovia
TRIBUNJAMBI.COM - Dua siswa SMPLB Negeri Kuala Tungkal, M Ilham dan Sovia Lamona, harus
Penulis: Awang Azhari | Editor: Fifi Suryani
Senin (22/4) pagi-pagi, Ilham dan Sovia datang ke sekolah untuk mengikuti UN. Namun semangat mereka langsung meredup ketika pihak sekolah memberitahukan bahwa mereka belum bisa mengikuti UN tahun ini.
Kepala SMPLB Negeri Kuala Tungkal Carry Agoeng mengatakan, memang siswa di sekolahnya baru pertamakali ikut UN. Sebab, tahun-tahun sebelumnya belum ada siswa yang kelas tiga. Dan, tahun ini ada lima siswa kelas tiga dan dua di antaranya berhak ikut ujian nasional. Namun, harapan kedua siswa SMPLB tersebut kata Carry, tidak bisa terwujud karena tidak ada soal UN yang datang. Carry pun kasihan dan tak bisa menahan kesedihannya ketika melihat Ilham dan Sovia.
"Bukan cuma soal UN yang tidak ada. Tapi, nomor peserta ujian mereka juga tidak dapat. Alasan orang provinsi, karena saya tidak mendaftarkan mereka. Padahal, tiga minggu lalu saya sudah daftarkan mereka. Saat itu, sedang pembagian nomor ujian. Karena, siswa saya tidak dapat, makanya saya kejar ke provinsi. Tapi, kata orang provinsi saya tidak mendaftarkannya dan pendaftaran sudah tutup," jelas Carry, Senin (22/4).
Padahal kata Carry, ia sudah memberikan data siswa yang akan mengikuti UN jauh-jauh hari. Menurutnya, ia telah memberikan data kepada UPTD yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Tapi, apakah data tersebut sampai atau tidak ke provinsi, ia tidak mengetahuinya. Ia mengaku baru tahu siswanya tidak bisa mengikuti UN setelah adanya pembagian nomor peserta ujian, yang tidak diterimanya.
"Siswanya bertanya tadi. Saya bilang kepada siswa itu, kalau mereka harus stand by setiap hari di sekolah. Ketika soal UN datang, mereka bisa langsung mengikuti UN. Menjadi beban moral bagi saya, ketika anak-anak didik saya tidak bias mengikuti UN. Sampai sakit kepala belakang saya ini memikirkannya," kata Carry, seraya memijit kepala bagian belakangnya.
Kepala SDLB yang merangkap SMPLB dan SMALB tersebut, khawatir anak didiknya yang SD yang siap mengikuti UN Mei mendatang, juga tidak bisa UN. Kata Carry, ada empat siswa SDLB yang harus mengikuti UN tahun ini. Dan, ia tidak ingin hal yang sama terjadi kepada siswa SDLB tersebut. Karena, secara ujian sekolah sebut Carry, mereka lulus.
"Di sini jumlah siswa keseluruhannya dari SD hingga SMA, ada 101 siswa terdiri dari SD 78 siswa, SMP 12 siswa dan SMA 11 siswa," ujar Carry.
Tidak terdata
Mencoba untuk mencari kejelasan atas masalah ini, Tribun menghubungi Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Abdul Mukti, yang kebetulan dalam UN di Provinsi Jambi kali ini, dirinya bertindak sebagai ketua pelaksana.
Saat ditanya terkait masalah ini, Mukti mengatakan bahwa SMPLB tersebut bukan belum dapat soal, tapi memang siswa kelas tiga di sekolah tersebut tidak terdata sebagai peserta UN. "Kalau untuk di sana, dari awal kami memang sudah tahu," terangnya, Senin (22/4).
Ia mengatakan, pada saat ujian sudah mau dimulai, barulah pihak sekolah memberi laporan ke disdik provinsi, yang mengatakan bahwa siswa kelas tiga SMPLB Kuala Tungkal mau masuk sebagai calon peserta.
"Laporan itu masuk pada saat semua sudah dicetak, dan pihak pusat sudah menutup akses, jadi tidak mungkin lagi. Jika kita lihat, ini memang keteledoran dari pihak sekolah," ucapnya.
Mencoba untuk menyikapi hal ini, Mukti mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan pihak disdik kabupaten, namun pihak disdik kabupaten balik mengatakan untuk SMPLB tersebut semua menjadi kewenangan provinsi.
"Tapi saya sudah jelaskan, bahwa semua lembaga pendidikan di wilayah kabupaten/kota menjadi kewenangan pihak kabupaten/kota untuk mengendalikannya," tutur Mukti.
Mukti mengaku pihaknya akan mencoba untuk mengkaji lagi guna mencari solusi. Namun ditegaskannya, kalau untuk diikutkan dalam ujian ulang agak sulit dilakukan, karena ujian ulang hanya dapat dilakukan jika siswa yang bersangkutan sakit, tetapi siswa itu sudah terdaftar sebagai calon peserta ujian. "Kalau inikan memang tidak terdaftar, nah ini yang jadi masalah," pungkasnya.