• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Jambi

Ini Pengakuan Mahasiswa FK Unja

Rabu, 27 Maret 2013 10:14 WIB


Seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Jambi, sebut saja namanya P mengatakan untuk masuk ke studi Kedokteran ia harus melalui tahap seleksi ketat, setelah itu dirinya harus membayar Rp 60 juta sebagai uang sumbangan, ditambah biaya SPP Rp 2,5 juta per semester.
Menurutnya biaya yang harus dibayar oleh setiap mahasiswa setiap angkatan bebeda‑beda, semakin ke depan biaya semakin tinggi, bisa mencapai Rp 90 juta.
Dengan membayar segitu, ia mengaku fasilitas dan kualitas yang didapatkan mahasiswa tidak terlalu memadai. "Mungkin kalau dibandingkan dengan FK lain yang pernah saya lihat, seperti di Jawa, ya jauh beda," katanya.
Yang membedakan menurutnya hanya di sarana saja, kalau masalah tenaga pengajar sudah sesuai dengan apa yang diharapkan.
Mahasiswa yang dapat dibilang cukup vokal ini mengatakan, kalau masalah penerimaan mahasiswa baru, ia mengaku memang seharusnya dilakukan dengan tahapan yang benar‑benar profesional.
"Rekrutmen secara profesional itu ada, tapi tidak komprehensif, dalam arti kata anak itu sebenarnya kurang mampu. Kalau tidak mampu tapi dipaksakan ya pasti tidak akan siap untuk mengikuti perkuliahan," terangnya.
Ia pun membenarkan terkait banyaknya mahasiswa studi kedokteran yang masuk dengan cara titipan dari pejabat, atau keluarga kepada petinggi kampus.
"Walau tidak bisa dibuktikan secara tertulis, tapi kalau masalah titip menitip itu memang bukan bualan semata, seperti sudah lumrah, mungkin memang sudah zamannya  begitu, pakai permainan politik. Tapi memang kelihatan yang mana mahasiswa titipan, kebanyakan mereka tidak mampu mengikuti perkuliahan. Tapi saya nggak mau bilang siapa‑siapa saja orangnya" pungkasnya.
Senada dengan P,  U sudah menyelesaikan masa studi Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Jambi. Saat ini ia sedang menjalani pendidikan Co‑Assnya. Namun masih jelas di ingatannya bagaimana dulu dia bisa masuk ke fakultas eksklusif di universitas terfavorit di Jambi itu.
"Masuknya Rp 75 juta. Semula hanya Rp 60 juta lalu ada tambahan lagi Rp 15 juta. Itu karena lulus murni kalau cadangan, bisa sampai Rp 110 juta," ungkapnya kepada Tribun.
Semasa ia masuk dulu memang tidak hanya lulus murni saja yang ada tapi juga ada lulus cadangan. Katanya, lulus cadangan ini bisa diterima karena dua faktor. Pertama ada yang lulus murni mengundurkan diri dan atau tentu karena mampu membayar dengan lebih dari mahasiswa yang lulus murni.
Ia tahu betul tentang ini karena banyak temannya yang lulus cadangan semasa itu. Lulus cadangan ini karena nilai saat tes masuk berada di deretan bawah. "Kalau yang titipan masa itu banyak. Kayak anak dosen, ada.  Tapi kalau sekarang agak susah. Karena semua manajemen diganti. Keluarga saya saja mau masuk sudah bayar hingga Rp 200 juta tapi namanya gak keluar waktu tahun lalu. Padahal uangnya sudah sama orang dalam. Akhirnya dibalikin," ungkapnya.
Tidak cuma itu ada juga anak seorang dokter yang juga tidak lulus pada 2012 itu. Meskipun sudah seketat itu aturannya, U tidak mau bilang kalau saat ini masuk FK Unja benar‑benar murni sebab masih ada yang pakai beking.
"Ya bekingannya harus kuat. Saya dapat info juga ada 8 atau 12 orang anak 2012 itu yang masuk karena memo pejabat padahal dia katanya gak ikut ujian atau ngak daftar tapi namanya ada. Jadi tetap saja kalau ada bekingan kuat bisa masuk," tuturnya.
Ia pun mendengar bahwa satu dari 8 atau 12 orang yang masuk karena memo pejabat itu sudah keluar dari FK Unja. Katanya karena tidak sanggup menjalani perkuliahan yang memang menuntut keseriusan dan kerja keras.
Diakui U seperti seorang teman SMA-nya A, yang masuk karena anak dosen semasa itu. Dia tidak terlalu pintar terbukti ada beberapa mata kuliahnya yang gagal. Waktu SMA awalnya berada pada rangking 10 besar, saat naik kelas di jurusan IPA tidak diketahui rangkingnya. Status A awalnya juga cadangan. Meski gagal di beberapa mata kuliah, Ia masih beroleh beasiswa.
Selain A seorang mahasiswi FK yang cukup terkenal bernama K, di kampusnya juga tidak terlalu pintar.
"Dia memang nggak terlalu pintar. Tapi memang tamatnya cepat. Gak tahu kenapa. Ohya kalau sekarang mau masuk harus siapkan Rp 80 juta. Itu tahun 2012 gak tahu deh naik apa nggak 2013 ini. Lagian kalau tidak benar‑benar pintar kayaknya susah lulus tahun ini, kecuali bekingannya benar‑benar kuat," ungkapnya.
Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
209002 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas