Rabu, 10 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

BKSDA Berhari‑hari di Hutan Mencari Si Belang

Sudah 1,5 bulan tim Penanganan Konflik Satwa Liar BKSDA Provinsi Jambi mengejar seekor harimau Sumatera

Tayang:
Penulis: bandot | Editor: Deddy Rachmawan

Sudah 1,5 bulan tim Penanganan Konflik Satwa Liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi mengejar seekor harimau Sumatera (Pantera tigris sumatrae) yang membuat geger warga Jambi. Beberapa kali harimau masuk perkampungan dan melintas di jalan umum, namun upaya menangkapnya belum membuahkan hasil.

"SEJAK pertama kali ada konflik di Merlung, kita sudah mencarinya untuk menangkap harimau itu," kata Koordinator Tim penanganan konflik BKSDA Nur Azman.
Tim yang beranggotakan enam orang dan dibantu personil polhut maupun BKSDA menurut Nur terus mencari harimau yang telah mencelakai manusia ini. Berhari‑hari mereka harus tidur di lapangan, di tempat seadanya demi mencari keberadaan si belang ini.
Nur mengatakan masing‑masing personil mempunyai keahlian tersendiri, ada yang ahli membaca jejak satwa, penembak jitu dan keahlian lainnya.
Namun menurut Nur modal utama untuk masuk ke dalam tim ialah mental, pasalnya orang‑orang 'gila' ini mesti mengejar dan menangkap harimau Sumatera ini dalam keadaan hidup dan bukan untuk mencelakai satwa ini.
"Peralatan khusus untuk menangkap harimau tidak ada, yang kami bawa hanya senjata bius, dan perangkap berupa kandang," katanya.
Berhari‑hari tim ini berada di hutan mencari jejak si belang. "Yang membuat kami senang, kalau ada informasi yang membawa kita kepada harimau. Itu yang membangkitkan semangat kami," ujarnya.
Beberapa kali tim juga berpapasan dengan harimau itu, bahkan sudah berjarak beberapa meter saja, namun untuk menangkapnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ditembak bius pun hewan ini masih bisa lolos. Menurutnya saat tembak bius dilakukan pada malam hari, keselamatan satwa maupun tim mesti diprioritaskan.

Anggota tim Bastoni mengatakan menangkap harimau yang berkonflik dengan warga di Jambi akhir‑akhir ini tidak gampang, pasalnya harimau ini memiliki kelainan perilaku.
"Selama 1,5 bulan ini luar biasa sekali, harimau ini sulit ditangkap karena tidak normal, kalau normal biasanya gampang ditangkap," katanya.
Ketidaknormalan perilaku di antaranya harimau ini sudah terlalu jauh keluar dari wilayahnya, terindentifikasi pertama di perbatasan Jambi Riau, beberapa waktu ini dia terlihat di perbatasan Jambi Sumatera Selatan.
Namun di lapangan tidak semuanya berjalan mulus. Tidak sedikit masyarakat yang merasa ketakutan dan frustasi karena karnivora ini belum tertangkap, menumpahkan kekesalan mereka kepada tim.
Bahkan itu sempat membuat tim kendur semangat dan berniat balik kanan. "Kami tidak menyalahkan mereka, karena kami tahu masyarakat merasa takut," kata Nur Azman.
Selain itu ketidakakuratan informasi yang diberikan oleh masyarakat seringkali terjadi di dalam pemburuan si belang. "Semua laporan kita tanggapi, kita langsung turun cek ke lokasi," katanya.
Adanya informasi yang tidak akurat juga dikeluhkan oleh Kepala BKSDA Jambi Tri Siswo Rahadjo, bahkan Tri Siswo dengan tegas mengatakan informasi keberadaan harimau hanya 30 persen yang benar sedangkan sisanya tidak benar.
Menurut Tri Siswo disinyalir ada kelompok‑kelompok tertentu yang sengaja membuat jejak palsu untuk mengalihkan perhatian atau menutup‑nutupi sesuatu, namun Tri tidak merinci lebih jauh pengalihan perhatian atau untuk menutupi apa.
"Tim yang turun ada menemukan jejak palsu, buatan yang jelek sekali tidak mirip jejak harimau," katanya. Selain itu ketidaktahuan masyarakat yang tidak bisa membedakan jejak harimau dan jejak anjing.
Pihak BKSDA Jambi memastikan akan terus mencari dan berusaha menangkap harimau itu. Bahkan sejumlah pakar satwa liar dan juga NGO sudah dikumpulkan di Jambi untuk membahas cara menangkap harimau itu. (bandot arywono)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved