A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kadir Pingsan Lihat Harimau - Tribun Jambi
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Jambi

Kadir Pingsan Lihat Harimau

Selasa, 5 Maret 2013 11:42 WIB
Kadir Pingsan Lihat Harimau
WWF/PHKA
Keluarga harimau yang terekam kamera otomatis WWF di blok hutan Bukit Tigapuluh di Kabupaten Indragiri Hulu (Riau) dan Kabupaten Tebo, Jambi.
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Muhammad Kadir (52) berhasil lolos setelah melihat harimau dari jarak 10 meter. Saking takutnya, Kadir pingsan begitu sampai di rumah. Rasa trauma yang mendekapnya membuat ia berjanji tidak akan menyadap karet selama seminggu.
Muhammad Kadir (52) alias Mamad, warga RT 01, Kampung 5, Desa Petajen, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, tidak sadarkan diri setelah melihat harimau, Senin (4/3). Dirinya melihat langsung harimau subuh pukul 05.30 saat hendak pergi ke kebun karet miliknya.
"Aku melihat harimau itu sedang mengais-ngais tanah. Begitu tahu itu harimau, aku langsung lari sambil berteriak," kata Muhammad Kadir, kemarin.
Padahal jarak antara rumah Kadir dengan kebun miliknya hanya 200 meter. Saat melihat harimau, Kadir baru setengah perjalanan menuju ke kebunnya. Saat itu Kadir berangkat naik sepeda.
Begitu melihat harimau, tanpa pikir panjang, Kadir langsung melompat dari sepeda dan meninggalkannya begitu saja.
Kadir terus berlari ke rumahnya sambil berteriak. Begitu sampai Kadir pun langsung jatuh pingsan akibat rasa takut yang menghantuinya.
Muhammad Kadir biasa pergi ke kebun pada pukul 03.00. Akan tetapi karena mendapatkan kabar bahwa ada harimau berkeliaran di Desa Muhajirin dan Ness, maka jadwal ke kebunnya diperlambat menunggu matahari lebih terang.
Ketika pergi menggunakan sepeda, dirinya sempat melihat bayangan hewan besar mengais-ngais tanah. Karena rasa penasaran, lantas dirinya pun mendatangi bayangan itu untuk memastikan hewan apa sebenarnya.
Begitu melihat langsung dalam jarak 10 meter, dirinya pun langsung membanting stang sepeda dan meninggalkannya begitu saja. Dirinya memilih berlari sambil berteriak-teriak.
"Mungkin dalam seminggu ini tidak dulu pergi ke kebun. Masih takut dan trauma dengan kejadian tadi," ujarnya.
Dainuri, warga kampung yang rumahnya dekat tempat kejadian menjelaskan, ketika kejadian dirinya masih tidur di rumah. Mendengar ada teriakan, Dainuri langsung langsung keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Saat itu dilihatnya warga sudah ramai di belakang, tempat Kadir melihat harimau yang sedang mengais-ngais tanah.
"Ketika keluar, warga sudah ramai berkumpul di belakang melihat bekas cakaran harimau yang mengais ketika dilihat Pak Mamad tadi," kata Dainuri.
Sekdes Desa Petajen Omrizal, ketika dikonfirmasi kemarin mengatakan, setelah mendengar ada warga Kampung 5 yang melihat harimau di kebun, ia langsung memberitahu pihak terkait untuk turun mengecek di lapangan.
Menurutnya setelah mendapatkan kabar harimau di kampung mereka, warga menjadi trauma dan takut beraktivitas di luar rumah.
"Mendengar ada harimau, saya langsung menelpon sekcam dan pihak BKSDA," ujar Omrizal.
Omrizal juga mengharapkan agar masyarakat Petajen tidak beraktivitas di luar rumah bila sudah hampir gelap. Demikian pula kepada para petani untuk tidak dulu pergi ke kebun bila hari masih gelap. Namun bila ada warga yang masih ingin motong karet, dihimbau berangkat ketika hari sudah terang.
Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Minggu (3/2) malam menurut Kepala BKSDA Jambi Tri Siswo berhasil menembak bius harimau di daerah Lubuk Landai, Mestong. Sayangnya tembak bius belum mampu melumpuhkan harimau yang ditengarai berjenis kelamin jantan. Harimau dengan panjang sekitar 1,5 meter itu diperkirakan berumur 15 tahun.
"Tadi malam sekitar pukul 09.00 harimau itu berhasil ditembak bius oleh personil di lapangan, tetapi dia lolos," kata Tri Siswo, Senin (4/2).
Menurutnya ditembaknya "sang datuk" pada malam hari sebenarnya tidak efektif dilakukan karena pasca-terkena bius, obat bius tersebut hanya bekerja 30 menit dan di malam hari untuk mencarinya akan sulit.
"Karena harimau itu tidak bisa dijebak, petugas di lapangan juga sudah capek dan segera ingin menangkapnya, jadi kita tembak bius, tapi sampai tadi pagi belum ketemu harimaunya," kata Tri Siswo. Konflik antara harimau dan manusia yang terjadi akhir-akhir ini bahkan membuat para personel BKSDA kewalahan. Sudah dua bulan diburu harimau itu tidak juga tertangkap.
Tri Siswo bakal mengundang pakar harimau ke Jambi untuk mencari solusi untuk menangkap harimau tersebut.

Paling banyak 4 ekor
Ditegaskan Tri Siswo bahwa jumlah harimau yang sedang konflik dengan manusia di Jambi akhir-akhir ini hanya satu ekor.
Ia membantah kabar yang menyebutkan harimau itu jumlahnya 16 ekor. "Harimau itu hewan soliter beda dengan gajah yang bergerombol, harimau paling banyak dia ada 4 ekor, 1 induk dan sisanya anaknya," katanya.
Sebelumnya sudah beberapa pekan terakhir masyarakat Jambi digegerkan dengan berkeliarannya harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) yang mengakibatkan konflik dengan masyarakat. Bahkan akibat konflik antara harimau dan manusia itu mengakibatkan jatuhnya korban. "Untuk korban ada 1 yang tewas dan lima luka-luka," kata Tri Siswo.
Dari data yang dilansir BKSDA korban tewas bernama Sutardi (21) alias kancil asal Pacitan, Jawa Timur yang tewas di lokasi Distrik V PT WKS di Desa Suban, Kecamatan Batang Asam 24 Januari 2013.
Pada 8 Februari kemarin Fajar (37) karyawan PT Dasa Anugerah Sejati diserang di Desa Lubuk Bernai, Batang Asam, beruntung Fajar berhasil meloloskan diri dengan mendapat luka cakaran di kaki dan gigitan di pundak.
Di hari yang sama warga yang juga sempat dikejar harimau ialah Kasdan (60) di Desa Tanjung Tayas. Korban dikejar harimau saat membersihkan kebun sawit. Beruntung tinggal jarak 5 meter dari Kasdan, harimau itu berhenti mengejar Kasdan yang lari mengamankan diri di pos satpam.
Korban lain ialah Legino Murdianto (22) yang mendapat luka di bagian kaki saat berada di PT CKT Desa Dusun Mudo pada 11 Februari kemarin.
Pada 28 Februari lalu harimau juga melukai seorang warga Desa Muaro Sebo, Sutrisno (37) yang saat kejadian berada di kebun karet. Sutrisno luka di kaki dan dada.
Terakhir informasi yang didapatkan Tribun kemarin si belang juga menyerang Wahyudi (23) di kebun karet, di belakang Pasar Sungai Landai, Desa Sri Mulyo, Kelurahan Tempino, Mestong Kabupaten Muaro Jambi.

Bertubuh kurus
Laporan terakhir menurut Tri Siswo harimau Sumatera yang sedang di uber petugas dari BKSDA terpantau dalam keadaan kurus. Tri Siswo menyebutkan berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh timnya setelah beberapa kali harimau itu menampakkan diri.
"Kalau menurut laporan harimau itu kelihatan kurus," kata Tri Siswo. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan timnya harimau itu mempunyai penyimpangan perilaku.
"Sepertinya harimau ini sudah biasa melihat manusia atau hewan peliharaan, karena kalau harimau liar biasanya korbannya dimakan, tetapi ini tidak, korban hanya dilukai," katanya.
Selain itu korban yang lari juga tidak terus dikejar harimau, padahal biasanya si belang tidak kenal kompromi mengejar korbannya. "Reflek harimau liar kalau ketemu manusia langsung nerkam. Hewan peliharaan warga pun tidak habis dimakan," katanya.
Menurutnya hutan yang menjadi habitat hidup harimau semakin sempit karena alih fungsi hutan, banjir yang terjadi di Jambi beberapa pekan kemarin juga menjadi penyebab harimau Sumatera yang ada di Jambi berpindah-pindah tempat dan mengakibatkan konflik dengan masyarakat.
"Selain karena hutannya sempit dan makanan sudah banyak berkurang, kemungkinan banjir yang terjadi di Jambi membuat harimau ini berpindah-pindah," kata Tri Siswo.
Pihak BKSDA Jambi mensiyalir harimau yang membuat resah warga dalam beberapa pekan terakhir itu sama dan hanya berjumlah satu ekor.
Pihak BKSDA menampik kabar yang beredar yang menyebutkan jumlahnya ada 16 ekor.
Data dari BKSDA Jambi Harimau itu pertama kali terlihat di areal lahan PT WKS di Distrik V Desa Suban, Batang Asam, pada 7 Februari 2013 lalu, kemudian 8 Februari si belang menyambangi lahan PT Dasa Anugerah Sejati di Desa Lubuk Bernai, Batang Asam, Tanjabtim. Tanggal 9 hingga 12 Februari harimau terpantau berada di areal PT CKT di Dusun Mudo.
Tanggal 14 Februari laporan masyarakat yang masuk harimau berada di Desa suka Awin Jaya belakang rumah warga di pinggir jalan lintas KM 63 arah Jambi, masuk wilayah Kabupaten Muaro Jambi.
Sehari kemudian harimau itu terlihat di Petaling, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Tanggal 18 Februari harimau terpantau di daerah Pemayung, Batanghari tepatnya di Desa Teluk Ketapang.
Kemudian si belang juga terlihat di Pulau Betung, Batanghari pada 27 Februari kemarin. Sehari kemudian harimau berada di Desa Muaro Sebo, Batanghari yang mengarah ke Sungai Bertam.
Minggu 3 Maret kemarin harimau telihat di Desa Baru, Sungai Landai, Tempino, Kecamatan Mestong.

Lindungi masyarakat dan harimau
Osmantri Koordinator Tiger Patrol Unit dan Pemantauan Satwa, WWF- Indonesia yang dihubungi Tribun mengatakan, tim dari BKSDA harus segera melakukan langkah penyelamatan, bukan hanya kepada masyarakat akan tetapi juga terhadap harimau itu.
Hal tersebut penting menurutnya, pasalnya keresahan masyarakat yang ditimbulkan akibat konflik yang berkepanjangan selain mengancam jiwa manusia juga hewan yang dilindungi oleh undang-undang ini.
"BKSDA mesti melakukan langkah yang cepat untuk menangani ini, artinya harus digali informasi dan juga dipelajari lagi," katanya kemarin.
Menurut perkiraan Osmantri melihat pergerakan dan pola serangannya, jumlah harimau itu tidak hanya satu ekor saja.
"Bisa jadi jumlahnya lebih dari satu, itu asumsi saya kalau dilihat pergerakannya yang melingkupi empat kabupaten, dan pola serangannya juga berbeda," katanya. Walaupun begitu Osmantri mengatakan BKSDA lah yang lebih mengetahui hal tersebut.
Ditanya apakah dimungkinkan harimau yang meresahkan itu dibunuh menurut Osmantri hal itu bisa mengakibatkan permasalahan baru, karena membunuh harimau melanggar hukum.
"Memang bisa saja satwa liar dibunuh apabila memang mengancam, tapi kategori mengancam itu yang menentukan dari BKSDA," katanya. (dot/dun)

##SIDEBAR
Nyaris Dijual
MESKI jumlah harimau di Provinsi Jambi sudah berkurang, perburuan terhadap si belang ditengarai masih terus berlangsung di Provinsi Jambi.
Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, Tri Siswo Rahardjo pihaknya mendeteksi perburuan masih terjadi, bahkan menurutnya pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tersebut memanfaatkan Suku Anak Dalam untuk berburu harimau kemudian dijual.
"Belum lama ini kami berhasil mengamankan dua ekor anak harimau dari SAD dan akan dijual," kata Tri Siswo.
Kronologis penangkapan itu sendiri menurutnya 2 Februari lalu ada SAD yang menangkap anak harimau di sekitar Sungai Mangatal eks-HPH PT Dalex, kemudian intelejen dari BKSDA pun diturunkan.
Dua hari kemudian anggota TNI dari Bungo memberikan informasi tentang harimau yang ditawarkan kepadanya.
Tim BKSDA pun bergerak menuju Desa Kuamang Kuning tempat para pelaku yaitu Yanti dan Aan.
Namun kepada petugas Yanti dan Aan tidak mengakui Ia diminta oleh SAD menjualkan harimau. Istri Aan yang ketakutan suaminya bakal diperiksa memberitahu BKSDA Jambi akan memberikan secara sukarela anak harimau itu kepada petugas.
Petugas dari BKSDA sempat khawatir akan didenda oleh SAD sebesar Rp 100 juta karena akan mengambil anak harimau itu kepada mereka. Namun anak harimau itu akhirnya diserahkan karena mereka takut diperiksa, setelah Aan dan istrinya kembai dipanggil dan diperiksa pada 11 Februari.
Anakan harimau itu berjenis kelamin jantan dan betina dengan umur kira-kira 1,5 bulan dan berat badan sekitar 3 kg.
Menurut Tri Siswo harimau tersebut diduga kuat berasal dari Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. "Tertangkapnya di Bungo, kemungkinan harimau itu berasal dari taman nasional," katanya.

Harimau itu menurut Tri Siswo ditawarkan seharga Rp 25 juta, namun belum sempat dijual, dua orang yang diduga hendak memperjual belikan hewan yang dilindungi itu menyerahkan dua ekor anak harimau itu. Dua orang yang berasal dari Desa Kuamang Kuning, Bungo bernama Aan dan Yanti.
Dua orang tersebut sempat menawarkan harimau itu ke anggota TNI, namun anggota tersebut melapor ke BKSDA, dan BKSDA pun turun untuk meminta keterangan terhadap pelaku yang diduga hendak menjual anakan harimau itu.
Di Jambi menurut Tri Siswo populasi harimau tinggal sebanyak 89 ekor. "Jika pembalakan liar tidak segera di stop hutan yang menjadi habitat harimau dalam dua tahun akan habis ganti dengan sawit dan karet," katanya.
Penulis: bandot
Editor: fifi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
191771 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas