• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 20 Oktober 2014
Tribun Jambi
Home » Ekbis » Market

Apa Sebabnya Pemerintah belum Menaikan Harga BBM

Kamis, 17 Januari 2013 14:33 WIB

TRIBUNJAMBI.COM—Pemerintah hingga saat ini belum berniat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meski anggaran untuk subsidi energi, baik BBM maupun listrik, sudah melonjak di atas Rp 200 triliun. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat, ada beberapa sebab yang membuat pemerintah ragu menaikkan harga BBM.


"Selain masalah politik, pemerintah ragu menaikkan harga BBM karena indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah masih rendah. Jika dinaikkan, ini akan berbahaya," kata Purbaya dalam acara Danareksa Outlook 2013: Its Time For Indonesia di Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, Kamis (10/1/2013).


Menurut Purbaya, sebenarnya indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah saat ini memang sudah membaik, tetapi masih berada pada level yang rendah. Berdasarkan penelitiannya, angka 90 adalah nilai aman indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Pada November 2012, indeks kepercayaan masih 82-83.


"Sebenarnya sudah cukup baik, tapi itu masih belum cukup aman untuk bisa menaikkan harga BBM," ujarnya.


Dalam catatannya, indeks kepercayaan konsumen pernah berada di atas 130 persen pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Di masa pemerintahan SBY-JK, indeks kepercayaan masyarakat berada di level 112,1; 92,9; dan 102. Saat itu, pemerintah menaikkan harga BBM tiga kali, yaitu dua kali pada 2005 dan satu kali pada 2007.









Ada 31 Komentar Untuk Artikel Ini.

  • Kamis, 17 Januari 2013 | 06:23 WIB
    Jangan coba-caba naikkan harga BBM SUBSIDI --- bahaya krisis politik dan ekonomi di Indonesia. Laksanakan : 1.Daya saing ditingkatkan, perluas pasar industri otomotif ke luar negeri --- jangan di dalam negeri, terutama jenis penumpang. 2. Kerja keras merealisir target Lifting Migas --- jangan main

  • Minggu, 13 Januari 2013 | 05:14 WIB
    Bukantidak mau menaikkan,cuma untuk mengumumkan kenaikan BBM sdh tdk ada yang mau,kalau dulu kan ada JK,sekarang pada ATUT tuh pamornya turun

  • Jumat, 11 Januari 2013 | 23:23 WIB
    Transparannya saja tidak ada, kalau hasil bumi lokal ... ya jangan dihitung harga internasinal dong ... dan tidak perlu ada istilah subsidi, itu minyak milik rakyat .... tapi jangan dieksport dong, yang Import baru jelasin berapa subsidinya ....

    • Minggu, 13 Januari 2013 | 04:59 WIB
      DARI ONGKOS KIRIM DAN IMPOR YG DIMARKUP SAJA SDH BERAPA?mutu dan harga minyak masa tdk bisa dikutakkatik??apa tdk mungkin manipulasi jumlah impor(tdk turun semua?)surat bisa dibikin,polisi saja sulit(?)ngusut kelangkaan bbm dari dulu,!!kok bisa???kpk hrs usut pertamina

  • Jumat, 11 Januari 2013 | 23:17 WIB
    Satu-satunya yg gampang ditipu adalah si endut; rakyat tak mudah ditipu lagi...!!

  • Jumat, 11 Januari 2013 | 23:11 WIB
    Indeks kepercayaan masyarakat kepada pemerintah rendah...!! Ini disebabkan banyaknya kader Partai Demokrat yg menjadi maling uang rakyat, contohnya si betina bernama angie yg akhirnya dihukum ringan dan uang yg dimalinginnya tak disita untuk dikembalikan ke negara..!!

    • Minggu, 13 Januari 2013 | 05:03 WIB
      si ANJIE NG ASIH SETORAN SAMA MAJIKANNYA BUAT MEMENANGKAN PEMILU DAN PUNDI2 CIKEAS,APA KATA G ADI CONDRO(GURITA CIKEAS)NAH ADA BENANGNYA BUAT KPK BUAT NELAAH BUKU MESUMNYA
 1 2 3 4 >
Kirim Komentar Anda
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan KOMPAS.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. KOMPAS.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

KOMPAS.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silakan atau register untuk kirim komentar Anda
Editor: ridwan
Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
157251 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas