• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 30 September 2014
Tribun Jambi

Di Sarolangun Satu Kilo Sawit Cuma Rp 500

Kamis, 3 Januari 2013 09:42 WIB
Di Sarolangun Satu Kilo Sawit Cuma Rp 500
TRIBUNJAMBI/ALDINO
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Heru Pitra

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Para petani kelapa sawit non kemitraan di Kabupaten Sarolangun menjerit. Buah sawit hasil kebun mereka cuma dihargai Rp 500 perkilonya. Sungguh ironi sekali, karena harga itu di bawah standar TBS Provinsi Jambi yakni, Rp 1.200 perkilo.
 
 Diduga, harga sawit yang sangat rendah itu, permainan para spekulan. Makanya para petani berharap pemerintah daerah memberi perhatian, agar harga sawit mereka sesuai standar TBS provinsi.
 
 Manto, petani sawit asal Singkut, mengeluhkan atas kondisi ini. Ia sebagai petani non kemitraan, dan belakangan ini terus mengalami kerugian. 
 
 "Harga sawit sangat rendah, hanya Rp 500 perkilo gram. Bagaimana kami menopang keluarga kalau harganya jatuh kayak gini. Kami merugi," katanya, Rabu (2/1). 
 
 Bukan hanya ia yang mengeluh, kondisi ini malah membuat sebagian petani enggan memanen buah kelapa sawit mereka. Soalnya, biaya untuk memanen sangat besar.
  
 Ia sebagai petani sawit berharap pemerintah daerah membangun pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS). Supaya hasil kebun mereka dapat dibeli dengan harga standar, atau sesuai dengan ketetapan pemerintah.
  
 Menanggapi hal ini, Kadis Kehutanan dan Perkebunan Sarolangun, Joko mengaku terkejut mendengar harga buah sawit hanya Rp 500 perkilogram. Soalnya, kata Joko, dibeberapa PKS harga sawit sesuai dengan TBS yakni Rp 1.200 perkilogram.
 
 Ia mengatakan, rendahnya harga sawit petani disebabkan jarak tempuh ke kebun warga sangat jauh, sehingga membuat biaya dengan sendirinya bertambah.
  
 "Mungkin para tengkulak harus menembuh jarak yang cukup jauh untuk membeli buah warga. Jika dijual k epabrik yang ada, saya rasa harganya akan tetap standar," Joko menjelaskan. 
 
 Soal permintaan petani sawit agar pemkab mendirikan PKS, Joko mengatakan itu mungkin saja dilakukan. 
 
 "Bisa dibangun asalkan regulasinya jelas, serta mempertimbangkan jumlah kebun sawit milik warga apa mampu memenuhi standar produksi. Misalnya, pabrik bisa mencetak 100 barel perjam, cukup atau tidak buah saawit milik warga untuk memenuhi kebutuhan tersebut," jawabnya. 
Penulis: heru
Editor: rahimin
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
147921 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas