A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Petani Sawit Jambi Minta Ketegasan Pemerintah - Tribun Jambi
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Jambi

Petani Sawit Jambi Minta Ketegasan Pemerintah

Senin, 12 November 2012 09:54 WIB
Petani Sawit Jambi Minta Ketegasan Pemerintah
tribunjambi
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah Koperasi Unit Desa (KUD) yang bergerak dibidang Kelapa Sawit di Kecamatan Sungai Bahar mempertanyakan harga sawit plasma di PTP Nusantara VI yang lebih rendah dengan ketetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit Provinsi Jambi.
Hal ini disampaikan sejumlah ketua KUD yang menangani penjualan kelapa sawit petani plasma.
Disampaikan Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mukti Tama Sungai Bahar Sarjono sudah lebih satu bulan harga TBS kelapa sawit plasma dijual dengan harga Rp 780 per kilogram (kg).
Sedangkan ketetapan provinsi Jambi harga TBS Rp 1.200-an per kg. "Harga sawit petani plasma di Sungai Bahar Rp 780 per kg. Ini turun jauh, sudah lebih sebulan," katanya, Minggu (11/11).
Sarjono menjelaskan produksi sawit per bulan di KUD Mukti Tama, berkisar 1.500-2.000 ton. Belum lagi KUD yang lainnya, dengan harga yang begitu tentu produksi juga turun karena semua perawatan membutuhkan biaya yang tinggi.
"Jadi kok bisa harganya di bawah rata-rata provinsi. Kita tahu kalau harga TBS provinsi sudah Rp 1.200 per kilogram. Tapi di Sungai Bahar harga petani sawit plasma masih rendah," ungkapnya
Disampaikan Sarjono, pihak PTPN VI beralasan nilai crued palm oil (CPO) dan randemennya rendah.
Tapi kalau rendamennya rendah kenapa hanya terjadi di Sungai Bahar. Dia menuturkan semua petani meminta perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jambi tentang ketapan harga sawit.
Hampir 80 persen Sungai Bahar mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani sawit.
"Kita minta ketegasan pemerintah lah, mana undang-undang yang kuat. Harga seperti ini sangat berdampak bagi kesejahteraan petani," terangnya. Ia juga mengatakan dalam waktu dekat semua KUD di Sungai Bahar sudah sepakat untuk melakukan pertemuan membahas masalah harga sawit ini.

Ditambahkan Suriono, Ketua KUD Sumber Makmur, Sungai Bahar, harga TBS yang di jual Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sampai  Minggu, (kemaren,red) masih Rp 780 per kilogram. Ini harga sawit plasma yang paling super  yang ditetapkan PKS tersebut.
"Memang harga TBS yang di provinsi nggak dipakai. Kami segenap pengurus KUD beserta kepala desa rencananya (Senin) akan mengadakan pertemuan membahas tentang harganya," ujarnya
Bahkan Suriono mengatakan harga terendah TBS plasma di Sungai Bahar, sementara PKS lain masih berkisar Rp 1.200-an.  
"Karena harga yang paling rendah hanya di Sungai Bahar. Sementara harga sawit yang di Petaling, Merlung dan lainnya masih kisaran Rp 1.200-an per kilogramnya," sebutnya.
"Kalau alasan mereka harga CPO di Bahar ini pemasaran harganya murah, jadi jatuh harganya." Sambungnya yang juga mengatakan ada 14 kelompok tani dengan produksi lebih 500 ton per bulan.

Sementara soal harga sawit untuk petani swadaya, Suriono bilang, masih menurun harganya Rp 550 per kg, karena bukan buah super. "Harapan kita dengan ada pertemuan kita minta kita minta menstabilkan harga lah sesuai TBS provinsi lah," ungkapnya.
Ia menjelaskan di Sungai Bahar pabrik PKS, PTP Nusantara VI ada tiga lokasi, yakni Pinang Tinggi, Bunut, dan Tanjung Lebar. Sementara hanya PKS Pinang Tinggi yang menerima TBS.
"Nampaknya Bunut sama Tanjung Lebar sudah nggak ngolah, dan tidak menerima TBS, karena alasannya tangki mereka sudah penuh. Jadi sekarang yang menerima Pinang Tinggi," kata Suriono.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Jambi, Muhammad ketika dikonfirmasi mengakui hal itu. Ia bahkan menyarankan agar semua PKS yang ada duduk bersama untuk membahas permasalahan sawit di Jambi.
"Termasuk PKS yang ada di Sungai Bahar, kenapa PTPN tidak patuh dengan peraturan pemerintah, kalau memang dia ada juga aturan, jadi mana yang lebih kuat dengan aturan pemerintah," tegasnya
Lebih lanjut, muhammad mengatakan PTPN VI juga merupakan anggota penetapan harga TBS di Disbun provinsi Jambi. Harga ril dari pemerintah sebenarya sudah ditetapkan di dinas Perkebunan Provinsi Jambi setiap seminggu sekali. Itu yang seharusnya menjadi patokan.
Benny Soebagio, Sekretaris PTPN VI mengatakan rendahnya pembelian TBS itu karena harga CPO sedang anjlok di pasaran.
Dan harga itu bukan saja turun di PTPN VI tetapi di perusahaan swasta juga demikian. Penyebab lain salah satunya adalah randemen, di provinsi Jambi randemen 21 persen, di Sungai Bahar 18-an persen.
"Karena di provinsi kan harga CPO anjlok trus, jadi harga pasar-pasar kita memang di bawah harga ketetapan. Bukan kita saja, di beberapa perusahaan swasta pun sama," ungkapnya
Dia memperkirakan harga ini akan sampai Desember tetap mengalami penurunan. Tetapi kalau harga CPO sudah stabil harganya bisa di atas provinsi. Jadi ini karena fluktuasi harga CPO saja.
Sesuai harga pasar
Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Disbun Provinsi Jambi Putri Rainun mengatakan dari hasil rapat penetapan harga TBS kelapa sawit untuk periode 9 November sampai 15 November 2012, harga TBS Rp 1.228 per kg, harga itu untuk perkebunan yang bermitra dengan perusahaan, termasuk petani sawit plasma.
Ditanya soal PTPN VI yang menetapkan harga TBS sendiri, ia mengakui hal itu. Karena Rainun bilang, mereka beralasan sesuai dengan harga pasar.
Lebih lanjut, Rainun mengatakan hal ini sudah pernah diberikan teguran, namun dia belum tahu tindak lanjut hal itu. "PTPN VI memang punya harga sendiri, karena mereka menetapkan harga berdasarkan randemen," ujarnya. (hdp)
Penulis: hendri dede
Editor: fifi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
110711 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas