• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 20 Oktober 2014
Tribun Jambi

Jembatan Darurat Rengas IX Batanghari Putus

Jumat, 13 April 2012 23:05 WIB

Laporan wartawan Tribun Jambi Suang Sitanggang
TRIBUNJAMBI.COM,MUARA BULIAN- Enam desa di Kecamatan Maro Sebo Ulu terancam terisolir pasca putusnya jembatan darurat di Desa Rengas IX. Yang merasakan dampak kerusakan jembatan itu adalah warga Desa Teluk leban, Rengas IX, Peninjauan, Kampung Baru, Batu Sawar, dan Dusun Tuo.

Kepala Desa Teluk Leban, Syargawi, mengatakan, jembatan darurat yang dibangun di atas anak Sungai Batanghari itu putus beberapa pekan lalu. Jembatan itu menjadi akses masyarakat dari enam desa menuju ibukota kecamatan Maro Sebo Ulu dan ibukota Kabupaten Batanghari.

Jembatan darurat itu dibangun warga setelah jembatan kayu yang sebelumnya berada di atas sungai itu ambruk tahun lalu, diterpa air sungai yang sedang meluap.  Setelah jembatan darurat itu putus, saat ini warga dari enam desa bingung harus lewat dari mana,” katanya kepada Tribun, Jumat (13/4).

Dia menyebut sebenarnya ada jalan alternatif, yakni melalui areal perkebunan. Namun saat ini jalan itu  sulit dilewati karena sering hujan, yang membuat jalan tanah menjadi berlumpur.  Sepeda motor pun sulit lewat dari jalan kebun itu, sekarang jalannya berlumpur,” ungkapnya.

Tak jauh dari jembatan darurat yang putus itu, warga setempat membangun sebuah jembatan darurat lagi. Namun jembatan darurat yang baru itu sangat sulit diakses sebab jalan menunju jembatan itu kini  berlumpur.  Letaknya dekat sawah. Harus lewat jalan lumpur baru masuk ke jembatan,” ujarnya.

Untuk mengganti jembatan Rengas IX yang ambruk tahun lalu, pemerintah daerah telah membangun satu jembatan permanen rangka baja di sana. Namun hingga kini pengerjaannya belum selesai. Warga belum bisa melintas dari jembatan itu. Pengerjaan jembatan dihentikan akhir tahun lalu.

 Jembatan baru yang dibangun pemerintah itu belum selesai bagian atasnya. Sampai sekarang kami belum bisa memanfaatkan jembatan baru itu. Harapan kami jembatan permanen itu bisa secepatnya diselesaikan, agar enam desa yang ada tidak terisolir. Kasihan masyarakat,” ungkapnya.

Ditambahkannya, kerusakan jembatan dan belum selesainya pengerjaan jembatan baru itu berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat di sana.  Mulai dari aspek ekonomi sampai aspek pendidikan. Harga barang-barang menjadi lebih mahal, dan anak-anak kami kesulitan ke sekolah,” ungkapnya.

Ahmad, warga lainnya menyebut, saat ini anak-anak mereka terancam terlambat ke sekolah, bahkan bisa jadi tidak sekolah.  Anak-anak mau ke sekolah sudah rapi. Tapi ketika mau lewat dari jembatan darurat yang baru itu, mereka harus melewati lumpur lagi. Anak-anak kami menderita,” ujarnya.

Dia menyebut, selain harus melewati jalan berlumpur untuk sampai ke jembatan darurat yang baru itu, setiap yang melintas di atasnya juga diwajibkan membayar Rp 3.000.  Kalau pulang pergi berarti harus bayar Rp 6.000 kepada yang jaga jembatan yang dibuat swadaya oleh warga Rengas IX itu,” terangnya.

Penulis: suang
Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
66948 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas