Senin, 22 Desember 2014
Tribun Jambi

Desain Jembatan Gantung Sudah Final

Rabu, 29 Februari 2012 10:14 WIB

Desain Jembatan Gantung Sudah Final
TRIBUNJAMBI/ALDINO
Maket jembatan gantung perdestrian dan jam gadang di Seberang


TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI ‑ Gubernur Hasan Basri Agus (HBA) memperkirakan jembatan gantung yang akan dibangun memotong Sungai Batanghari dan menghubungkan Kota Jambi dengan Seberang Kota Jambi (Sekoja) bisa dioperasikan tahun 2014 mendatang. Perencanaan pembangunan jembatan gantung pedestrian sudah final dengan anggaran biaya Rp 86 miliar dengan sistem multiyears.

HBA yang menggelar pertemuan dengan pihak terkait seperti Bapeda, Dinas PU terkait pembicaraan rencana pembangunan Jembatan Gantung Pedestrian memberikan sinyal positif kepada dinas terkait yang berhasil memaparkan hasil kajian dan perhitungan. Hasil kerja tersebut difinalkan oleh Gubernur Jambi dan dijadikan acuan kerja pembangunan jembatan dimaksud.

"Perencanaan desainnya sudah final. Kita sudah bicarakan sampai kepada total biaya dan ukurannya," ungkap HBA, Selasa (28/2).

Orang nomor satu di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah itu mengatakan, pembangunan jembatan pedestrian tersebut berbeda dan hanya satu di Indonesia. Maka dari itu pihaknya meminta desain yang memperhatikan tingkat keselamatan, pengaman jembatan sampai kepada pengaruh antaman angin terhadap jembatan. Dia sangat mewanti‑wanti agar kejadian di Kutai Kartanegara tidak terulang di Jambi.

Total dana Rp 86 miliar yang digunakan untuk pembangunan jembatan diluar dari perencanaan pembangunan Jam Menara. Sementara waktu yang diperlukan minimal memakan waktu 18 bulan.

Setelah memfinalkan hasil kerja tim yang ditunjuk, selanjutnya melakukan proses administrasi. Selain itu juga direncakan untuk segera meminta persetujuan dari dewan untuk dijadikan multiyears. 
"Rencana mulai dikerjakan pada tahun 2012 ini. Artinya penyelesaiannya pada tahun 2013 akhir," ujar HBA.

Jembatan ini diyakni gubernur sebagai satu‑satunya jembatan berbeda di Indonesia, karena jembatan ini tidak berbentuk lurus seperti umumnya, melainkan membelok seperti huruf "S". Kemudian, di samping jembatan tersebut direncanakan pembangunan jam menara. Jam itu akan berbunyi setiap datangnya waktu salat, sebagai penghargaan kepada nilai relegius masyarakat Sekoja.

Jam menara ini sendiri direncanakan mencapai ketinggian 100 meter. Di dalamnya juga disediakan lift untuk mencapai batas pertengahan jembatan. Namun, bila kemudian terjadi hambatan, tetap disediakan tangga.

"Jam ini akan menjadi jam tertinggi di seberang kota Jambi. Diharapkan dengan menaiki jam tersebut dapat melihat Kota Jambi,"harapannya.

Di samping itu, jam ini akan dibangun dengan lebar 3,5 meter. Untuk jamnya sendiri akan ditempatkan di empat penjuru. Serta pada bagian tertentu bangunannya akan dipasang lampu rotator dengan warna cerah seperti mercusuar. Direncanakan, jam gadang ini akan dinamakan Jam Menara Kota jambi.

Jam diharapkan menjadi ikon bagi Kota Jambi. Selain itu, di lingkungan Jam Menara Kota Jambi juga akan disulap menjadi lokasi wisata kuliner khas Jambi dan fasilitas restoran terapung.

"Di samping itu ada wisata air seperti ketek juga ada kapal pesiar yang akan disediakan pagi pengunjung. Naiknya nanti harus melalui seberang kota atau dekat Jam Menara," ucapnya.

Gubernur meminta kepada masyarakat tidak lantas memberikan tanggapan bahwa pembangunan tersebut untuk tujuan bermegah‑megahan. Pembanguan untuk menyejahterakan masyarakat tetap akan diperhatikan.(dun)
Penulis: dunan
Editor: deddy

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas