Perlu Rp 10 Juta Nikmati Pulau Berhala

TRIBUNJAMBI.COM - Sejak Pulau Berhala sekali lagi dikuatkan pemerintah menjadi bagian Provinsi Jambi,

Perlu Rp 10 Juta Nikmati Pulau Berhala
TRIBUNJAMBI/ALDINO

Sejak Pulau Berhala sekali lagi dikuatkan pemerintah menjadi bagian Provinsi Jambi, banyak sekali pertanyaan bagaimana mencapai pulau nan elok tersebut. Sengaja Tim Disbudpar bersama sekelompok relawan berjumlah 17 orang memanfaatkan transportasi umum yang lazim disebut speed untuk mengetahui persis biaya minimum untuk mencapainya. 

 MAKA Tim ini berjejal dengan penumpang umum lain. Ternyata perjalanan menyusuri sungai Batanghari tak kalah menariknya dengan Pulau Berhala sendiri.

 Setelah membayar tiket Rp. 55.000/orang, di bawah matahari pukul 9 pagi, Speed yang dijejali 27 dewasa, 5 anak-anak dan 4 ekor ayam aduan itu melesat lepas dari Tanggo Rajo mengarah timur jauh dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. 

 Seandainya saja Speedboat tersebut memiliki sokbreker (shock-absorber) untuk meredam bantingan air sungai, kami seolah meluncur mulus di jalan tol Jagorawi karena tanpa lubang-lubang di jalan. 

 Setelah melaju di atas air sekitar 15 menit, di sebelah kanan tampak barisan sawit seakan penjaga bantaran sungai. Terlihat pula aktivitas stockpile tempat penumpukan batubara yang menandakan kami mulai memasuki kawasan percandian Muara Jambi dengan aktivitas kehidupan desa sekitarnya. 

 Speed terus ngebut di antara pemandangan kebun dan pekarangan, sampai sekitar 40 menit kemudian sampailah kami di sebuah warung-terapung. Untuk sekedar meluruskan kaki dan mengendorkan pinggul dari bantingan speedboat warung-terapung ini memang cocok. Belum lagi ditambah wangi dan panasnya pop-mie, kopi, serta jajanan lain yang bisa dibeli di warung-ngapung ini. Memang warung ini popular sebagai transit-point bagi siapa saja yang melewati jalur ini.

 Begitu perut cukup terisi, kami dibawa ngebut kembali membelah sungai melewati kebun karet rakyat di kanan-kiri yang membuat perjalanan cukup adem. Sekitar 45 menit kemudian sampailah kami di situs makam Dato Orang Kayo Hitam. Speed melambat memberi hormat pada kawasan sejarah ini. 

 Dari tengah sungai tampak bangunan kokoh yang terdiri dari dermaga, gapura dan cungkup makam salah satu dari empat putra Datuk Paduka Berhala, sang Raja Jambi pertama. Dari empat bersaudara keturunan Datuk Pulau Berhala, Rangkayo Hitam dikenal paling sakti dalam legenda Jambi karena reputasinya melabrak Mataram untuk menghentikan penarikan upeti Jambi ke kerajaan Jawa tersebut.

 Selang meluncur beberapa menit kemudian tampak seekor burung warna hijau yang indah sedang berterbangan di pinggir sungai sebagai pertanda kami telah memasuki Kawasan Taman Nasional Berbak. Salah satu kawasan konservasi lahan basah terbesar di Asia Tenggara yang terkenal menyimpan berbagai jenis binatang mamalia besar dan jenis burung langka. 

 Di sisi pariwisata kawasan ini tidak sekedar untuk berpiknik keluarga namun lebih cocok bagi yang menyukai tantangan dan petualangan alam. Tepat pukul 11.30 speed merapat ke dermaga Ponton di Kecamatan Nipah Panjang. Dengan Rp. 55 ribu kami dapat menikmati 2 jam wisata sungai yang cukup lengkap dan tidak membosankan.

 Di sini tim menikmati makan siang sambil menawar kendaraan yang paling ekonomis untuk membawa Tim ke Pulau Berhala. Terhemat adalah men-charter Pong-pong dengan harga Rp. 2,5 juta pergi-pulang. Entah nama dari mana istilah pong-pong ini. Namun yang paling masuk akal adalah suara khas mesin diesel yang pong-pong-pong menyebabkan perahu ini diberi nama seindah suaranya.

 Pong-pong bergerak pelan namun pasti meninggalkan sungai menuju lautan luas. Rumah panggung dan rumah rakit merupakan pemandangan yang menarik di kanan-kiri sungai.

 Mengasyikkan lagi ketika pong-pong mulai melepas diri dari air sungai dan dijemput oleh Samudra. Pong-pong sampai terdongak-dongak melompati ombak laut luas. Alhamdulillah pong-pong mantap melaju tanpa kandas ketika kami terlepas dari warna kuning coklat dan disambut warna birunya laut. 

 Ombak di musim penghujan ini memang tinggi. Seram tegang namun mengasyikkan ketika kami harus berkali-kali mengusap muka diguyur ombak yang naik ke pong-pong. 
Kenyang satu setengah jam digoyang dan disiram air asin tampaklah sudah yang kami tuju. Pemandangan yang begitu menarik saat panorama bukit hijau seolah muncul di atas ombak yang dibentengi batuan vulkanik yang saling tegak bak berhala minta sembah. 

 The Berhala Island sungguh fantastik. Dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang tak kalah menarik dan bersihnya yaitu Pulau Layar, Pulau Lampu dan Pulau Telor. Berhala sendiri bagaikan Kastil yang didirikan di laut. Kami tidak bisa membayangkan apa jadinya bila pulau kecil ini dikerumuni sampah tinggalan pengunjung.  

 Tentunya semua berpulang pada bagaimana pulau ini dikelola. Ada dua opsi untuk mengelola Pulau hebat ini: 1) untuk konsumsi wisatawan massal 2) untuk wisatawan exclusive. Bila dikelola untuk lokasi piknik massal, cost harus dibuat semurah-murahnya dengan fasilitas dan pelayanan seadanya dimana penyediaan kebutuhan rekreasi masyarakat yang diutamakan. 

 Namun ancamannya adalah sampah sulit dikontrol. Pilihan kedua bersifat exclusive Resort, dimana pemerintah akan mendapatkan PAD tinggi dan kebersihan pulau terjamin. Hanya terbatas turis berduit saja yang sanggup ke sana. Paket darat-laut dibuat mahal oleh fasilitas dan jasa pelayanan yang prima. Ruginya bila tidak berhati-hati masyarakat setempat hanya sebagai penonton.

 Tim bermalam di pendopo beralas tikar. Pilihan paket hemat. Esoknya tim melakukan identifikasi lapangan termasuk mendaki puncak bukit dimana terdapat bekas benteng pertahanan Angkatan Laut Jepang dengan meriamnya yang tergeletak mengarah ke Jambi. 

 Konsumsi seharian dilayani oleh penduduk dengan lauk sederhana bercirikan sayuran, telur goreng dan ikan laut segar. Murah sehat dan khas. 

 Hitung-hitung total satu group bila terdiri dari 20 orang harus merogoh kocek Rp10 juta untuk transport, logistik, guide dan akomodasi. Termasuk belanja sea-food segar di Nipah Panjang menuju pulang ke Jambi, oleh-oleh wajib dari Pulau Berhala. Wisata air yang mengasyikkan dan itu ada di Jambi. (Didy Wurjanto, Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jambi)

Editor: rahimin
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved