• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Jambi

Perajin Ukiran Betung Sepi Pembeli

Senin, 12 September 2011 22:59 WIB

Laporan wartawan Tribun Jambi, Suang Sitanggang
MUARA BULIAN, TRIBUN- Perajin ukiran kayu di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, resah karena kerajinan yang dihasilkan kurang diminati masyarakat. Omzet yang diperoleh para perajin merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir, dan pengusahanya terancam gulung tikar.

" Saya resah karena penjualan setiap tahun rasanya semakin menurun,” kata Jani, satu diantara perajin ukiran kayu betung, kemarin (12/9). Berbagai ukiran mulai dari hiasan berbentuk ikan, asbak, hingga meubel yang dipajang di toko, di Jalan Lintas Jambi-Muara Bulian, sepi pembeli.

Bahkan saat jalan itu ramai dilintasi pemudik Lebaran lalu, omzet perajin di sana tidak terdongkrak juga. Jani menyebut kondisi ini sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir.  Minat warga Jambi dan para pendatang untuk membeli kayu ukiran semakin berkurang,” ungkapnya.

Dia menyebut para perajin, termasuk dirinya sudah berusaha membuat berbagai inovasi, seperti memperbanyak jenis ukiran. Namun inovasi itu tak juga membuat mereka bisa mendongkrak omzet.  Sekarang ini benar-benar sepi. Walau sudah semakin banyak jenis kerajinan, tetap saja kondisinya sama,” ujarnya.

Kayu ukiran betung sudah ada sejak 1990, yang diinisiasi oleh Sapar, seorang pemuda desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung. Dia awalnya bekerja sebagai karyawan perusahaan meubel, namun akhirnya memilih keluar dari perusahaan itu.

Sapar berusaha membuat usaha sendiri dengan cara memanfaatkan limbah kayu yang kala itu banyak ditemukan di sana. Berbekal pengalaman di perusahaan tersebut, dia mencoba membuat tempat kursi untuk bersantai, hingga akhirnya dia membuat ukiran yang ukurannya lebih besar.

Sapar lalu membuat berbagai meubel ukiran khas Jambi, yang menjadi ciri khas ukiran kayu dari desa itu.  Bentuk ukiran di sini tidak sama dengan daerah lain. Kalaupun ada daerah lain yang memiliki meja dan kursi yang terbuat dari ukiran kayu, tapi motifnya jelas berbeda,” ujar Ansori, perajin lain.

Ansori menyebut masa keemasan kayu ukiran Betung sudah lewat. Hal itu ditandai dengan semakin banyaknya perajin kayu Betung berubah profesi.  Sampai 2007 masih banyak perajin ukiran di sini. Tapi setelah itu banyak yang tak sanggup bertahan karena pembeli makin sepi,” ujarnya.

Pria yang sudah 14 tahun menggeluti usaha ukiran itu merupakan perajin yang lihai membuat ukiran berbentuk ikan arwana. Satu ukiran ikan arwana yang besar butuh waktu satu minggu untuk membuatnya, dan ukiran yang sudah terkenal ke berbagai daerah itu dijual Rp 750 ribu.

" Membuatnya butuh waktu satu minggu, tapi dalam satu minggu belum tentu ada satu ukiran ikan yang terjual,” ungkapnya. Dia menyebut omzetnya sekarang ini hanya sekitar satu hingga dua juta rupiah, jauh lebih rendah dibanding lima tahun lalu, yang bisa mencapai lima juta rupiah.

" Kami mengharapkan bantuan pemerintah daerah, supaya ukiran ini bisa tetap bertahan. Kalau hanya mengandalkan kemampuan kami sendiri memasarkannya, rasanya  susah,” ucap Jani. Satu di antara bantuan yang mereka harapkan adalah Pemda membantu mempromosikannya.

Ketua Tim Penggerak PKK Batanghari, Sofiah Fattah, pekan lalu mengatakan pihaknya telah memberikan saran kepada pemerintah daerah agar membangun sentra penjualan kerajinan Batanghari. Menurutnya, adanya pusat penjualan hasil kreasi warga Batanghari itu akan mampu membantu perajin keluar dari keterpurukannya.  Mudah-mudahan diakomodir, dan dibangun tahun depan,” kata Sofiah Fattah.

Wakil Bupati Batanghari, Sinwan, prihatin atas kondisi yang menerpa perajin kayu yang sudah membawa harum nama Kabupaten Batanghari.  Kayu ukiran dari Desa Pulau Betung sudah menjadi salah satu ikon Batanghari. Saya pikir harus gencar dipromosikan agar kerajinan itu bisa menggeliat,” ucapnya.
Penulis: suang
Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas