A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Jambi Jadi Kota Terpanas Ketiga - Tribun Jambi
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 26 Juli 2014
Tribun Jambi

Jambi Jadi Kota Terpanas Ketiga

Rabu, 11 Mei 2011 09:31 WIB
Jambi Jadi Kota Terpanas Ketiga
aldino/tribun jambi
salah satu sudut Kota Jambi
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM  - Panas membakar kulit. Itulah yang dirasakan warga Kota Jambi dalam tiga hari terakhir. Puncak panas terjadi pada Senin (9/5) kemarin yakni suhu mencapai 34 derajat Celcius. Sementara provinsi tetangga, Kota Medan dan Kota Pekanbaru lebih dahsyat lagi yakni mencapai 36,3 derajat Celcius dan 36 derajat Celcius.
    Tak pelak, warga pun mengeluh karena ini dianggap sebagai cuaca yang tidak biasa. Banyak warga memilih tidak keluar rumah. Mereka yang berada di ruangan ber-AC merasakan betapa kontrasnya suhu yang dirasakan ketika keluar ruangan.
     Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi Muhammad Nur bahkan menyebut kondisi sekarang ini bisa berpotensi terjadinya kebakaran hutan. "Oksigen, angin dan suhu tinggi merupakan pemicu timbulnya api," kata Nur, Selasa (10/5).
    Menurut Nur suhu udara di Jambi dalam tiga hari terakhir rata‑rata 34,4 derajat Celcius bahkan bisa sampai 34,5 derajat Celcius. "Suhu udara memang panas, diatas suhu maksimal rata‑rata di Jambi yaitu 33 derajat Celcius," kata Nur.
    Ia menambahkan potensi kebakaran bisa saja terjadi pada cuaca seperti sekarang ini. "Bisa saja terjadi api kalau ketiga unsur tersebut ada," katanya. Nur menambahkan angin beberapa hari ini juga relatif kencang.
    Walaupun panas di atas rata‑rata menurut Nur cuaca tersebut belum dikategorikan cuaca ekstrem, "Dikategorikan cuaca ekstreem kalau suhunya 3 derajat di atas suhu maksimal daerah tersebut, sekarang ini mencapai 34 derajat dikatakan ekstrem kalau suhunya mencapai 36 derajat celcius," jelas Nur.
    Panasnya cuaca beberapa hari terakhir menurut Nur akibat adanya tropical storm yang berpusat di Philipina. Hal tersebut mengakibatkan cuaca di Jambi yang akhir‑akhir ini terasa panas dan gerah. Muhammad Nur mengatakan akibat adanya tropical storm tersebut massa udara tertarik ke sana.  
    Akibatnya uap air yang ada berkurang, dan walaupun terbentuk awan akan segera pecah karena massanya tertarik ke pusaran badai tropis tersebut. "Akibatnya sinar matahari langsung menyinari bumi, dan diserap oleh bumi, saat malam hari panas matahari yang diserap bumi dilepaskan bersama uap air yang ada di atas," katanya.
    Walaupun begitu menurut catatan BMKG suhu berangsur‑angsur mulai turun, "Hari ini (kemarin)  pukul 14.30 WIB suhu 32 derajat Celcius dan angin mulai kalem," kata Nur. Ditambahkannya tropical storm pun berangsur‑angsur sudah mulai pecah.
    Sementara United Nations World Meteorological Organization (UNWMO), lembaga khusus PBB yang bertugas untuk memantau cuaca dan iklim melaporkan, pada pekan ini, suhu terpanas di Bumi sempat mencapai 46 derajat Celcius.
    Menghadapi cuaca panas,  Dinas Kehutanan Provinsi Jambi siap menghadapi kebakaran hutan. Patroli berkala berjalan guna memantau daerah potensi kebakaran. Dari tahun sebelumnya, jumlah hotspot potensi kebakaran telah berkurang drastis, pengurangan mencapai 60‑70 persen. Pengurangan jumlah hotspot membuat potensi kebakaran di Provinsi Jambi juga berkurang.
    "Intensitas kebakaran sekarang telah berkurang. Langkah antisipasinya kita selalu pantau hotspot, selain itu ada juga patroli petugas di lapangan," kata Zulfadli Mansour, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi melalui stafnya Cipto, Selasa (10/5) siang.
    Dishut sendiri, menurut Cipto tidak membuat program khusus, namun telah melakukan langkah‑langkah antisipasi. Beberapa langkah tersebut, pantau hotspot, patroli di daerah rawan, sosialisasi di masyarakat dan pemadaman.
    "Untuk pemadaman hanya dilakukan kalau terjadi kebakaran saja," lanjutnya. Sedangkan untuk petugas patroli, tiap daerah telah memiliki. Setiap tim berjumlah 3‑4 orang, mereka bertugas memantau daerah rawan namun tidak setiap hari, hanya secara berkala.
    Lebih lanjut, menurut Cipto karakteristik hutan potensi kebakaran adalah tipe kering. Hutan gambut yang kering dikatakannya lebih mudah terbakar. "Kalau hutan gambut kita susah memadamkannya, karena terbakar sampai ke dalam," lanjutnya.
    Potensi kebakaran lain ada di hutan alam. Penyebab kebakaran di hutan alam lebih karena faktor alam, karena gesekan antar pohon, seperti yang sering terjadi di luar negeri. "Tapi kalau yang ini kecil potensinya," kata Cipto.
    Sejak  kebakaran 2006, jumlah hotspot di Jambi berkurang drastis. Di 2010 sendiri, jumlah titik hotspot di Jambi jumlahnya 623 titik. Jumlah ini berkurang lagi menjadi 167 titik di tahun ini.
    "Jumlah paling banyak ketika 2006, yaitu 7.000‑an. Saat hutan Jambi banyak terbakar," kata Cipto.(dot/sud)
Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas