• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 21 September 2014
Tribun Jambi

Sengketa Timbul Setelah Sawit Berbuah

Selasa, 5 April 2011 21:51 WIB

Laporan wartawan Tribun Jambi, Suang Sitanggang
MUARA BULIAN, TRIBUN- Belasan orang utusan petani dari Desa Belanti Jaya, Kecamatan Mersam, melakukan hearing dengan Komisi II DPRD Batanghari. Mereka menyampaikan permasalahan yang saat ini sedang dihadapinya, yakni terancam tergusur dari lahan yang sedang mereka garap saat ini.
Petani mengatakan, mereka akan menelan kerugian yang cukup besar bila sampai tergusur atau digusur dari lahan milik PT Sawit Jambi Lestari (PT SJL).  "Kami memang menanam kelapa sawit di lahan PT SJL. Tapi pada saat menggarapnya dulu, kami tidak tahu itu lahan milik perusahaan,” kata Kades Belanti Jaya, Bidin Hasan pada hearing dengan komisi II DPRD Batanghari dan pimpinan PT SJL, Selasa (5/4).
Ia menjelaskan, pada saat menanami lahan itu tahun 2004 silam, mereka beranggapan lahan itu adalah lahan tidur. Warga desa itu tidak menemukan adanya aktivitas diatas lahan yang izinnya dipegang oleh PT SJL sejak 1992 itu.  Karena kami pikir lahan tidur, akhirnya kami garap,” ucapnya.
Lahan itu mereka bangun menjadi kebun kelapa sawit menggunakan dana pribadi. Hingga kini, petani menyebut ada sekitar 250 hektar lahan perusahaan itu yang sudah mereka garap menjadi kebun sawit. Lahan seluas itu digarap oleh 187 kepala keluarga yang semuanya bermukim disana.
 Sekitar 75 persen dari kebun yang kami bangun itu sudah panen. Tapi justru setelah kebun kami panen baru perusahaan datang dan mempersoalkan kebun itu. Kami dirugikan, apalagi bila diminta untuk meninggalkan kebun kami yang sudah menghasilkan itu,” ujarnya.
Petani yang tiba di gedung DPRD Batanghari sekitar pukul 11.00 itu mengatakan, PT SJL pernah meminta mereka agar dilakukan pola pembagian fifty-fifty, yakni setengah dari luas lahan yang digarap petani tetap digarap petani tersebut, sedangkan setengahnya lagi dikembalikan kepada perusahaan.
Namun pola itu dinilai mereka terlalu memberatkan, sebab mereka sudah menanam kelapa sawit disana dan merawatnya. Untuk aktivitas itu, petani mengaku telah mengeluarkan uang yang cukup besar, dan mereka baru mulai mau menikmati hasil jerih payahnya itu.  Kami yang sudah capek membuat kebun itu, tidak mungkin kami melepaskan setengahnya untuk perusahaan,” ucap Tabroni, petani lainnya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Batanghari, Mauli Pulungan, pada kesempatan itu meminta kepada perusahaan supaya tidak membuat kebijakan yang merugikan masyarakat.
Penulis: suang
Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
6075 articles 5 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas