Teror Bom

Irjen Mbai: Polisi Sudah Tahu Penerornya

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror, Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai akhirnya

JAKARTA, TRIBUNJAMBI.COM -  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror, Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai akhirnya mengeluarkan juga pernyataan soal kelompok yang dicurigai sebagai pelaku serangkaian teror belakangan ini.

Menurut dia, Kepolisian sudah membaca pelaku adalah orang atau sekelompok orang yang memiliki pemahaman serupa dengan pengebom lainnya yang mulai muncul sejak 1998.

"Ini memang ada jaringan lama. Indikasinya lihat jenis bom dan metode mereka buat bom. Lihat tujuan dari bukti yang dikirimkan itu, persis kaitan dari tujuan mereka," katanya seusai menghadiri diskusi bertajuk "Setelah Bom Buku Terbitlah Isu" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (19/3/2011).

Menurut Mbai, aksi teror dengan modus berupa pengiriman paket tersebut pernah terjadi di Poso pada 2006. "Persis seperti itu, tapi kemasannya beda. Sekarang buku. Kalau dulu senter yang diletakkan di depan pintu, dipencet meledak," ujarnya.

Pelakunya, menurut Mbai, merupakan pecahan dari kelompok aksi teror Bom Bali I. "Setelah ditangkap, mereka terpencar ke banyak kelompok, orang-orangnya (yang lain) bisa saja baru direkrut," ucap Mbai.

Hanya saja, cara pelaku menimbulkan kepanikan masyarakat kali ini berbeda. Sekarang pola aksi teror lebih ditujukan pada perorangan seperti bom paket buku buat aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla.

Meskipun demikian, lanjut Mbai, masih terlihat benang merah yang menunjukkan peteror bom buku adalah pemain lama.

"Targetnya masih orang-orang yang dikategorikan musuh. Siapa? Yang tidak sependapat dengan mereka. Orang-orang yang dianggap menghambat tujuan mereka, Barat, Yahudi, dan yang dianggap kolabolator Barat. Jadi tidak jauh, secara dasar tidak berubah," papar Mbai.

Bahkan Kepolisian pun, lanjut Mbai, menjadi sasaran mereka. "Polisi itu thogut (setan), termasuk pemerintah juga musuh bagi mereka. Pemerintah itu bagi mereka kafir," ujarnya.

Soal nama kelompok pelaku teror, kata Mbai, bukan persoalan penting. Meskipun tiap kelompok menamakan dirinya berbeda-beda, pada suatu titik, kelompok-kelompok yang berideologi sama tersebut dapat bersatu dalam aksi.

"Bisa Jamaah Islamiyah (JI), Negara Islam Indonesia (NII), ada Mujahidin Kompak, dan banyak lagi. Soal nama tidak terlalu penting. Yang penting itu terorisme bersumber ideologi radikal," tandasnya.

Sebelumnya, saat diskusi di tempat yang sama, Mbai terkesan hati-hati soal arah bidikan polisi. Ia justru mengingatkan bahwa para peneror tidak hanya ingin menunjukkan kelemahan pemerintah.

Mereka, katanya, juga sengaja menimbulkan konflik horizontal antarwarga. Mereka membuat terjadinya saling tuding dan saling tuduh dalam masyarakat. "Nah, ini sudah hampir tercapai tujuan kedua," katanya.

Editor: fifi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help